JAKARTA — PT Perkebunan Nusantara (PTPN) I tengah menyiapkan skema pembelian kopi rakyat sebagai bagian dari strategi memperkuat kemitraan dengan petani lokal sekaligus meningkatkan daya saing kopi Indonesia di pasar dunia.
Sekretaris Perusahaan PTPN I, Aris Handoyo, menjelaskan bahwa pola kemitraan ini akan mengadopsi model yang sudah sukses diterapkan pada komoditas lain, seperti sawit plasma, tebu rakyat, dan bahan olah karet (bokar).
"Ada rencana PTPN ke depan untuk melakukan pembelian kopi masyarakat. Selain itu, PTPN juga berencana melakukan pembinaan terhadap petani-petani kopi di sekitar wilayah operasional," ujar Aris.
Melalui skema ini, hasil produksi kopi rakyat akan diintegrasikan ke dalam rantai pasok dan pemasaran perusahaan secara berkelanjutan.
Strategi ini merupakan bagian dari upaya perusahaan dalam mengintegrasikan sektor hulu hingga hilir guna menghasilkan kopi dengan kualitas premium yang konsisten.
Sebagai komoditas inti, PTPN I terus memprioritaskan pengembangan kopi melalui peremajaan tanaman tua serta pemanfaatan lahan yang belum optimal.
Perusahaan fokus pada varietas Arabika (seperti Andung Sari 2 K, Gayo, Kamasti) dan Robusta (seperti klon BP 42, BP 409, BP 939, dan Tugusari 6) yang memiliki potensi produktivitas tinggi.
Didukung oleh fasilitas pengolahan modern di Jawa Timur (seperti kawasan Ijen dan Banyuwangi) serta Jawa Tengah (seperti Kebun Banaran), produk kopi PTPN I kini telah merambah pasar ekspor ke Jepang, Amerika Serikat, hingga Uni Eropa.
Melalui penguatan ekosistem kopi nasional ini, PTPN I menargetkan peningkatan nilai tambah komoditas serta memperkokoh posisi Indonesia sebagai produsen kopi berkualitas tinggi di pasar dunia.