Prabowo Resmi Terapkan Biodiesel B50 Mulai 1 Juli 2026

Rabu, 17 Juni 2026 | 21:51:02 WIB
Juru Bicara sekaligus Kepala Biro Komunikasi, Layanan Informasi Publik, dan Kerja Sama (KLIK) Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Dwi Anggia. (Foto: NET)

JAKARTA — Pemerintah akan segera menjalankan program biodiesel B50 per 1 Juli 2026 sebagai upaya memperkokoh ketahanan energi nasional sekaligus memitigasi dampak dinamika geopolitik dunia terhadap pasokan serta harga energi.

Juru Bicara sekaligus Kepala Biro Komunikasi, Layanan Informasi Publik, dan Kerja Sama (KLIK) Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Dwi Anggia menyatakan bahwa keputusan tersebut diambil berdasarkan beragam pertimbangan strategis, terutama demi menjaga ketahanan energi nasional di tengah situasi global yang tidak menentu. 

Dalam sesi keterangan pers di Gedung Badan Komunikasi Pemerintah (Bakom) RI, Rabu (17/6/2026), Dwi memaparkan bahwa terdapat empat indikator utama dalam ketahanan energi yang menjadi alasan pemerintah untuk segera menerapkan B50.

"Berbicara mengenai ketahanan energi ini ada empat parameternya, yaitu availability atau ketersediaan, kemudian akses energi, keterjangkauan atau affordability, dan juga ramah lingkungan atau acceptability," ujar Dwi.

Menurutnya, keempat elemen tersebut menjadi dasar pemerintah dalam mengakselerasi penggunaan biodiesel berbahan dasar minyak sawit. Di samping memperkuat ketahanan energi, langkah ini juga merupakan bentuk respons atas perubahan geopolitik global yang berdampak pada pasar energi dunia. 

Dwi menyebutkan Presiden Prabowo Subianto ingin Indonesia lebih maksimal dalam memanfaatkan sumber daya dalam negeri guna memenuhi kebutuhan energi nasional. Secara bersamaan, pemerintah pun konsisten memacu proses transisi menuju energi yang lebih bersih serta berkelanjutan.

"Presiden mengharapkan agar kami dapat mengoptimalkan pemanfaatan sumber daya domestik serta juga mendorong transisi energi yang lebih bersih dan berkelanjutan," katanya.

Ia menekankan bahwa penerapan B50 yang dimulai awal Juli mendatang bukan sekadar bertujuan meningkatkan pemakaian energi terbarukan, melainkan juga sebagai langkah preventif terhadap ketidakstabilan harga minyak dunia yang terus terjadi.

"Jadi ada beberapa faktor utama sebenarnya kenapa akhirnya 1 Juli ini nanti diimplementasikan, lebih kepada merespons juga kondisi geopolitik. Kami tahu harga minyak sedang naik turun, teman-teman juga mungkin merasakan fluktuasi harga minyak," ujarnya.

Terkini