Ekspor Kakao RI Tetap Tumbuh Positif di Tengah Tekanan Pasokan Global

Kamis, 18 Juni 2026 | 21:09:02 WIB
Kepala Indonesia Eximbank Institute Rini Satriani. (Foto: NET)

JAKARTA – Lembaga Pembiayaan Ekspor Indonesia (LPEI) atau Indonesia Eximbank melaporkan bahwa kinerja ekspor kakao nasional mencatatkan pertumbuhan positif selama tahun 2025 di tengah kondisi tekanan pasokan global.

Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS), nilai ekspor kakao Indonesia di 2025 menembus 3,5 miliar dolar AS, meningkat 36 persen dibanding tahun sebelumnya. Peningkatan ini dipicu oleh naiknya harga kakao dunia serta tingginya permintaan di pasar internasional.

Dalam keterangan di Jakarta, Kamis, Kepala Indonesia Eximbank Institute Rini Satriani menerangkan bahwa meski volume ekspor kakao Indonesia turun sekitar 2 persen sepanjang 2025, nilai ekspor tetap menguat sejalan dengan kenaikan rata-rata harga kakao global sebesar 6 persen. 

Lemak dan minyak kakao (HS 180400) mendominasi ekspor dengan kontribusi sekitar 62 persen atau setara 2,2 miliar dolar AS sepanjang 2025.

“Kenaikan harga terjadi di tengah terbatasnya pasokan kakao global yang menjaga harga komoditas tetap berada pada level relatif tinggi. Kondisi ini turut mendorong kinerja ekspor kakao Indonesia, yang didominasi produk olahan bernilai tambah sehingga memiliki daya saing kuat di pasar global,” katanya.

Rini menambahkan, pertumbuhan nilai ekspor kakao Indonesia menggambarkan kemajuan industri pengolahan di dalam negeri. Saat ini, struktur ekspor beralih dari bahan baku menuju produk olahan seperti lemak, minyak, bubuk, hingga pasta kakao.

“Hal ini menunjukkan semakin kuatnya daya saing industri kakao nasional sekaligus memberikan nilai ekonomi yang lebih besar bagi Indonesia,” ujar Rini.

Amerika Serikat dan India menjadi destinasi utama ekspor kakao Indonesia pada 2025 dengan nilai masing-masing 619 juta dolar AS dan 618 juta dolar AS, atau sekitar 17 persen dari total ekspor nasional. 

China berada di peringkat ketiga dengan nilai 446 juta dolar AS (12 persen). Ketiga negara tersebut mencatat pertumbuhan signifikan, yakni 141 persen untuk Amerika Serikat, 196 persen ke India, dan 105 persen ke China.

Pada perdagangan global tahun 2024, Indonesia menempati peringkat ke-12 sebagai eksportir kakao dunia dengan pangsa pasar sekitar 3 persen atau 2,6 miliar dolar AS. Dominasi pasar masih dipegang oleh Jerman, Belanda, dan Pantai Gading. 

Meski begitu, Indonesia masih memiliki peluang besar untuk ekspansi. International Trade Centre (ITC) memproyeksikan potensi ekspor kakao sekitar 1 miliar dolar AS yang dapat dioptimalkan, terutama di pasar Amerika Serikat, Singapura, dan Malaysia.

Prospek peningkatan ekspor kakao Indonesia didukung oleh beberapa faktor, yakni penguatan harga global, permintaan internasional yang tinggi, hilirisasi produk olahan, serta stabilitas kinerja industri domestik. 

Dengan permintaan global yang terus meningkat di tengah terbatasnya bahan baku, Indonesia memiliki kesempatan besar untuk menaikkan nilai ekspor lewat hilirisasi produk bernilai tambah tinggi.

Terkini