Rupiah Menguat ke Rp17.797, Pasar Respons Positif Damai AS-Iran

Jumat, 19 Juni 2026 | 02:13:01 WIB
Rupiah ditutup menguat ke level Rp17.797 per dolar AS. (Foto: NET)

JAKARTA — Mata uang rupiah mengakhiri perdagangan akhir pekan ini, Jumat (19/6/2026), dengan penguatan terhadap dolar Amerika Serikat ke posisi Rp17.797 per dolar AS. Berdasarkan data RTI Infokom, rupiah tercatat naik 0,24%. 

Sementara itu, pergerakan mata uang lain di kawasan Asia Pasifik terpantau beragam; yuan China turun 0,32%, dolar Hong Kong melemah 0,01%, yen Jepang menguat 0,06%, won Korea Selatan naik 0,68%, dolar Singapura turun 0,09%, baht Thailand melemah 0,18%, dan dolar Taiwan terkoreksi 0,02%.

Pengamat mata uang dan komoditas Ibrahim Assuaibi menyatakan bahwa sentimen pasar telah membaik secara signifikan sejak Washington dan Teheran menandatangani kesepakatan sementara yang bertujuan untuk mengakhiri permusuhan dan memulihkan navigasi komersial melalui Selat Hormuz, jalur air vital yang biasanya mengangkut sekitar seperlima pengiriman minyak global.

Kesepakatan tersebut telah meningkatkan harapan bahwa jutaan barel minyak mentah yang terdampar secara bertahap dapat kembali ke pasar internasional dalam beberapa minggu dan bulan mendatang. 

Laporan menyebutkan bahwa Amerika Serikat telah mencabut blokade terhadap Iran pada Kamis seiring berlakunya kesepakatan tersebut, sehingga kapal-kapal pengangkut minyak mulai keluar dari jalur perairan itu.

Di sisi lain, sembilan dari 19 pembuat kebijakan The Fed memproyeksikan setidaknya satu kenaikan suku bunga sebelum tahun ini berakhir, yang memperkuat ekspektasi bahwa biaya pinjaman akan tetap tinggi dalam durasi lebih lama. 

Walaupun The Fed menahan suku bunga pada Rabu, komentar Ketua Kevin Warsh dinilai pasar sangat agresif, yang memicu kenaikan imbal hasil obligasi pemerintah dan membuat dolar AS mencapai level terkuatnya dalam setahun terakhir.

Dari domestik, Ibrahim menyebut terdapat sentimen dari Morgan Stanley Capital International (MSCI) yang resmi mengumumkan peringkat kriteria arus informasi. 

Lembaga tersebut menetapkan peringkat kriteria arus informasi Indonesia menjadi negatif dalam laporan 2026 Global Market Accessibility Review. 

Langkah ini diambil setelah MSCI kembali menyoroti kekhawatiran mengenai transparansi struktur kepemilikan saham serta adanya indikasi perdagangan semu atau terkoordinasi di pasar saham domestik.

Namun demikian, MSCI menyatakan posisi Indonesia tetap di kelas negara berkembang atau Emerging Market berkat sejumlah keunggulan pada aspek keterbukaan pasar. 

Faktor inilah yang membuat MSCI mempertahankan klasifikasi Indonesia, setelah sempat memunculkan sinyal penurunan kelas, sehingga pasar kembali optimistis bahwa arus modal asing akan kembali masuk ke pasar keuangan tanah air.

Melihat kondisi tersebut, Ibrahim memproyeksikan rupiah akan ditutup melemah pada perdagangan Senin mendatang di kisaran Rp17.800–Rp17.850. Untuk pergerakan selama sepekan ke depan, ia memperkirakan nilai tukar rupiah akan berada di rentang Rp17.500–Rp18.000 per dolar AS.

Terkini