Ekspansi ke Filipina dan Bangladesh, Cermati Rekomendasi Saham AMRT

Sabtu, 20 Juni 2026 | 16:57:01 WIB
PT Sumber Alfaria Trijaya Tbk (AMRT). (Foto: NET)

JAKARTA. PT Sumber Alfaria Trijaya Tbk (AMRT) terus mengevaluasi berbagai peluang pertumbuhan internasional sebagai bagian dari rencana jangka panjang dalam mengukuhkan posisi di pasar global melalui entitas usahanya, Alfamart Retail Asia Pte. Ltd. (ARA).

Melalui ARA, AMRT menjalankan serangkaian transaksi afiliasi yang melibatkan Glory Worldwide Investment Pte. Ltd. (GWI), Alfamart Trading Philippines, Inc. (ATP), serta Alfamart Trading Bangladesh Ltd (ATBL). 

Langkah strategis ini bertujuan untuk mengonsolidasikan aset dan aktivitas bisnis ke dalam ARA, dengan harapan meningkatkan efisiensi operasional sekaligus memperkokoh struktur permodalan ARA melalui masuknya GWI sebagai mitra strategis.

"Pelaksanaan serangkaian transaksi tersebut merupakan bagian dari peta jalan AMRT untuk memperkuat peran ARA sebagai lini bisnis utama yang memiliki daya saing dan kapasitas pertumbuhan di pasar internasional," ungkap manajemen AMRT dalam keterbukaan informasi, Rabu (17/6/2026).

Restrukturisasi dimulai dengan Subscription Agreement di mana ARA menerbitkan 49,75 juta saham baru senilai US$ 40,63 juta yang diserap seluruhnya oleh GWI. Akibatnya, kepemilikan AMRT di ARA terdilusi dari 100% menjadi 49%, sementara GWI menjadi pemegang saham pengendali dengan porsi 51%.

Dana tersebut digunakan untuk dua transaksi lanjutan. Pertama, akuisisi 10% saham ATP dari GWI senilai US$ 10,53 juta, yang meningkatkan kepemilikan ARA di Alfamart Filipina dari 35% menjadi 45%. 

Kedua, pengambilalihan 70,02% saham Alfamart Bangladesh Limited (ATB) dari GWI senilai 220,75 juta Taka Bangladesh, menjadikan ARA pengendali operasional di negara tersebut. 

Berdasarkan laporan penilai independen, total transaksi ini masih di bawah batas 20% dari ekuitas AMRT per akhir 2025 yang sebesar Rp 19,38 triliun.

Analis sekaligus Branch Manager Panin Sekuritas Pondok Indah, Elandry Pratama, menilai langkah ini menunjukkan bahwa AMRT telah memasuki fase pertumbuhan regional seiring matangnya bisnis domestik. 

Secara strategi, langkah tersebut positif karena menyasar pasar dengan populasi besar dan penetrasi ritel modern yang masih rendah. Namun, kontribusi keuangan jangka pendek diprediksi belum signifikan karena masih dibutuhkannya investasi besar.

"Dampak yang lebih berarti berpotensi terlihat dalam jangka menengah hingga panjang apabila operasional di kedua negara mampu berkembang sesuai target," ujar Elandry, Jumat (19/6/2026).

Elandry menambahkan bahwa investor perlu memandang sentimen ini dari dua sisi. Di satu sisi, restrukturisasi memperkuat modal tanpa membebani neraca AMRT. Di sisi lain, terdapat risiko eksekusi seperti perbedaan regulasi dan tekanan margin pada fase awal.

Secara fundamental, AMRT tetap didukung oleh bisnis inti yang solid. Elandry menyarankan strategi akumulasi bertahap dengan target harga Rp 2.500–Rp 3.000 dalam 12 bulan ke depan. 

"Tapi, risiko utama yang perlu dicermati berasal dari perlambatan daya beli, kenaikan biaya operasional, serta potensi volatilitas pada fase awal ekspansi internasional," jelasnya.

Terkini