Indonesia-Jepang Perkuat Kerja Sama Budaya dan Museum KAA

Senin, 22 Juni 2026 | 18:34:31 WIB
Direktur Jenderal Informasi dan Diplomasi Publik Kementerian Luar Negeri RI, Heru Subolo. (Foto: NET)

JAKARTA – Indonesia dan Jepang tengah menjajaki penguatan kolaborasi sosial budaya, yang mencakup pengembangan kawasan bersejarah Museum Konferensi Asia Afrika (MKAA), sebagai elemen dari Kemitraan Komprehensif Strategis antara kedua negara.

Pembahasan tersebut berlangsung dalam rangkaian kunjungan kerja Direktur Jenderal Informasi dan Diplomasi Publik Kementerian Luar Negeri RI, Heru Subolo, ke Tokyo pada 17-19 Juni 2026, sebagaimana diinformasikan melalui keterangan pers Kedutaan Besar RI (KBRI) Tokyo pada Senin.

Heru menuturkan bahwa kerja sama sosial budaya antara Indonesia dan Jepang kian dipererat lewat pertukaran budaya, sektor pendidikan, serta dialog antarmasyarakat (people-to-people contact).

“Kami melakukan sejumlah pertemuan dengan pihak Jepang, mulai dari Ministry of Foreign Affairs (MoFA), Japan Foundation (JF), National Archives of Japan (NAJ), dan Japan Center for Asian Historical Records (JACAR),” kata Heru.

Menurutnya, Indonesia dan Jepang turut bertukar perspektif mengenai pengelolaan informasi dan komunikasi publik pada era digital, serta langkah penguatan diplomasi budaya.

“Dengan JF kami lakukan diskusi seputar penguatan hubungan masyarakat kedua negara melalui program pertukaran budaya, pendidikan bahasa Jepang, studi Jepang, dan kemitraan global. Termasuk membahas upaya pengembangan Kawasan Bersejarah Konferensi Asia Afrika (KAA) di Bandung,” ujarnya.

Heru menambahkan bahwa pihak NAJ dan JACAR memberikan respons positif terhadap peluang kerja sama dengan Indonesia, terutama yang berkaitan dengan preservasi, digitalisasi, serta pemanfaatan arsip Konferensi Asia Afrika untuk kebutuhan penelitian, edukasi, dan diplomasi publik.

Sementara itu, Kepala Museum Konferensi Asia Afrika, Noviasari Rustam, menyatakan bahwa Jepang mendukung peningkatan kapasitas museum, termasuk dalam aspek sumber daya manusia.

Menurutnya, tantangan utama yang tengah dihadapi Museum KAA meliputi infrastruktur, sarana prasarana, serta pengembangan sumber daya manusia. Museum KAA pun berupaya memaksimalkan penyediaan akses informasi yang akurat bagi masyarakat, baik di Indonesia maupun wisatawan mancanegara.

“Mereka juga akan menghubungkan Museum KAA dengan jaringan museum yang ada di Jepang. Museum KAA juga akan menjalin kerja sama dengan NAJ dan JACAR terkait digitalisasi dan pemanfaatan arsip KAA untuk kepentingan edukasi dan diplomasi publik,” katanya.

Selain itu, Museum KAA kini menjajaki kerja sama teknis bersama Tokyo National Museum, termasuk berbagi pengalaman terkait program publik. Di sela kunjungan tersebut, Heru juga mengadakan diskusi gastrodiplomasi bersama para pelaku usaha restoran Indonesia di Tokyo.

“Kuliner Indonesia adalah salah satu pintu masuk pengenalan Indonesia di Jepang. Keberadaan restoran Indonesia di Jepang menjadi jembatan diplomasi budaya kedua negara yang efektif,” ujarnya.

Terkini