Potensi Cuan 100 Kali Lipat dari Hilirisasi Nikel ke Baterai

Selasa, 23 Juni 2026 | 19:18:31 WIB
Direktur Utama PT Industri Baterai Indonesia atau Indonesia Battery Corporation (IBC) Aditya Farhan Arif. (Foto: NET)

JAKARTA — Direktur Utama PT Industri Baterai Indonesia atau Indonesia Battery Corporation (IBC) Aditya Farhan Arif menyatakan bahwa hilirisasi nikel menjadi produk baterai berpeluang menciptakan nilai tambah hingga 100 kali lipat. 

Dengan kata lain, keuntungan dari penjualan produk baterai jauh lebih besar dibandingkan sekadar mengekspor bijih nikel.

Aditya menerangkan, realisasi dari potensi tersebut sangat bergantung pada keberhasilan Indonesia dalam membangun rantai pasok industri baterai yang terintegrasi dari hulu ke hilir, serta ketersediaan pasar yang menyerapnya.

"Kalau kami berhasil membangun value chain nikel sampai ke baterai end-to-end dan betul-betul terintegrasi, nilai tambah dari nikelnya sendiri itu kami prediksi bisa sampai 100 kali nickel ore," jelas Aditya, Selasa (23/6/2026).

Dia menambahkan, keberhasilan hilirisasi ini juga ditentukan oleh penyerapan produk akhir di pasar. Aditya menilai industri baterai sangat bergantung pada spesifikasi dan kebutuhan konsumen akhir, berbeda dengan komoditas tambang yang dapat diproduksi serta dijual secara fleksibel. 

Setiap produsen kendaraan listrik atau original equipment manufacturer (OEM) memiliki desain dan arsitektur baterai yang berbeda, sehingga produksi baterai umumnya baru dilaksanakan setelah ada kontrak atau pesanan yang pasti.

“Kalau baterai, pabrik baterai itu memang harus menunggu demand. Kami tidak bisa bikin baterai tapi belum tahu siapa yang akan beli karena arsitektur baterai itu disesuaikan dengan end user-nya,” ujar Aditya.

Dengan karakteristik tersebut, waktu pencapaian lonjakan nilai tambah 100 kali lipat tidak hanya ditentukan oleh kesiapan fasilitas produksi, tetapi juga pertumbuhan pasar kendaraan listrik serta permintaan baterai global. 

“Kalau bicara nikel, peningkatan nilai tambahnya 100 kali itu terjadinya kapan akan sangat ditentukan oleh kapan market itu tersedia,” katanya.

Lebih lanjut, Aditya menuturkan bahwa pihaknya kini mulai membangun rantai pasok industri baterai di Karawang, Jawa Barat. 

Dia mengungkapkan bahwa IBC tengah menggenjot pembangunan pabrik sel baterai yang bekerja sama dengan Ningbo Contemporary Brunp Lygend (CBL) atau CATL, yang dijadwalkan mulai berproduksi pada Juli mendatang.

IBC memilih untuk memulai dari sisi hilir melalui pembangunan pabrik sel baterai tersebut sebagai fondasi awal pengembangan industri baterai nasional sebelum berekspansi ke sektor pengolahan bahan baku di bagian tengah rantai pasok. 

“Yang Juli nanti adalah yang paling downstream dulu, di baterainya. Jadi kami memang memulai dari baterainya dulu, kemudian tahun ini baru yang midstream-nya bersama Antam,” tuturnya.

Terkini