BRIN: Manfaatkan AI dan Teknologi Digital demi Pertanian Rendah Emisi

Rabu, 24 Juni 2026 | 19:13:01 WIB
Kepala Organisasi Riset Pertanian dan Pangan BRIN, Puji Lestari. (Foto: NET)

JAKARTA – Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) menggalakkan penggunaan kecerdasan buatan (AI) serta teknologi digital dalam bidang pertanian. Langkah ini bertujuan untuk mempercepat penurunan emisi gas rumah kaca, sekaligus mengoptimalkan produktivitas dan memperkuat ketahanan pangan.

Kepala Organisasi Riset Pertanian dan Pangan BRIN, Puji Lestari, di Sanur, Denpasar, Bali, pada Rabu, memandang bahwa implementasi teknologi digital merupakan solusi krusial dalam mendorong transformasi sektor pertanian menuju sistem produksi pangan yang lebih efisien dan ramah lingkungan.

"Berbagai inovasi saat ini telah tersedia untuk membantu petani mengurangi emisi sekaligus meningkatkan produktivitas usaha tani," kata Puji dalam acara pertukaran Pengetahuan tentang Teknologi Mutakhir untuk Sistem Padi dan Peternakan Rendah Emisi FSIP-FOLUR - Dialog Global Kedua tentang Transformasi Beras Berkelanjutan di Sanur, Bali.

Sejumlah teknologi yang kini mulai berkembang di antaranya metode pengairan berselang pada lahan sawah, optimalisasi efisiensi pupuk, penggunaan varietas unggul, teknologi penginderaan jauh, serta sistem pemantauan emisi berbasis kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI).

"Berita baiknya, berbagai alat dan teknologi untuk mendukung pertanian rendah emisi saat ini sudah tersedia dan semakin mudah diakses," ujarnya.

Puji memaparkan bahwa teknologi digital juga dapat membantu sistem pengukuran, pelaporan, dan verifikasi emisi atau Monitoring, Reporting and Verification (MRV) agar lebih akurat dan mudah diterapkan, bahkan bagi petani kecil.

Walau demikian, ia menekankan bahwa keberhasilan adopsi teknologi tidak sekadar bergantung pada ketersediaan inovasi. Diperlukan pula dukungan investasi, adaptasi dengan kondisi lokal, serta kebijakan yang mampu mengakselerasi penerapan teknologi dari skala percontohan ke skala yang lebih luas.

Menurutnya, kendala utama saat ini adalah terbatasnya pengetahuan dan kapasitas petani dalam mengakses serta memanfaatkan teknologi tersebut. Selain itu, sistem pelaporan emisi yang masih bervariasi antarnegara juga menyulitkan pengukuran dampak pengurangan emisi secara terstandarisasi.

Melalui forum tersebut, BRIN mengajak kolaborasi antarnegara di Asia dan Afrika untuk saling berbagi pengalaman dalam mengimplementasikan teknologi pertanian rendah emisi, termasuk pengembangan sistem digital guna mendukung target iklim global.

Puji menegaskan bahwa inovasi teknologi harus mampu menjangkau petani secara langsung agar transformasi pertanian rendah emisi dapat berlangsung lebih cepat dan memberikan dampak positif bagi ketahanan pangan serta kesejahteraan masyarakat.

Terkini