Meski Ekonomi Menantang, Simpanan Nasabah Kaya Melesat

Rabu, 24 Juni 2026 | 21:56:02 WIB
Lembaga Penjamin Simpanan (LPS). (Foto: NET)

JAKARTA - Simpanan nasabah kelas atas di sektor perbankan terus mencatatkan peningkatan signifikan. Meski kondisi perekonomian sedang berada dalam tekanan, kelompok nasabah kaya tetap mampu menambah jumlah simpanan mereka.

Data dari Lembaga Penjamin Simpanan (LPS) menunjukkan bahwa hingga Mei 2026, jumlah rekening dengan saldo melebihi Rp 5 miliar hanya mencakup kurang dari 0,1% dari total rekening di bank. 

Namun, secara nominal, tier simpanan ini menguasai 58,3% dari seluruh simpanan perbankan, meningkat dari 54,5% pada Mei 2025.

Pertumbuhan total simpanan pada rekening dengan saldo di atas Rp 5 miliar tercatat sebesar 21,4% secara tahunan (year-on-year/yoy) per Mei 2026. Angka tersebut jauh melampaui pertumbuhan tier simpanan lainnya yang berada di bawah 5% secara tahunan.

Ekonom Bank Tabungan Negara, Myrdal Gunarto, menjelaskan bahwa lonjakan simpanan nasabah kelas atas di tengah gejolak ekonomi dipicu oleh pendapatan mereka yang jauh melampaui kebutuhan konsumsi.

"Ini berarti kenaikan harga barang alias inflasi tidak banyak menguras proporsi pendapatan mereka. Pendapatan yang siap ditabung (disposable income) mereka tetap bersisa dalam jumlah besar," ujar Myrdal saat dihubungi, Rabu (24/6/2026).

Menurut Myrdal, gejolak ekonomi tidak memberikan dampak besar terhadap simpanan orang kaya dibandingkan dengan masyarakat kelas menengah-bawah. Selain itu, kenaikan BI Rate menjadi 5,75% mendorong nasabah kaya menempatkan lebih banyak dana di deposito untuk mengejar keuntungan. 

Nasabah kaya umumnya memiliki posisi tawar tinggi sehingga mampu memperoleh suku bunga khusus (special rate) yang jauh di atas nasabah biasa. Dengan tingkat imbal hasil tinggi dan risiko rendah, dana mereka terus tumbuh melampaui inflasi.

Di sisi lain, PT Bank Central Asia Tbk melaporkan pertumbuhan simpanan nasabah kelas atas sebesar 17% yoy hingga Maret 2026, dengan kenaikan jumlah rekening sebesar 14% yoy

EVP Corporate Communication & Social Responsibility BCA, Hera F. Heryn, menyatakan bahwa pertumbuhan simpanan dan Dana Pihak Ketiga (DPK) sangat dipengaruhi oleh variabel makroekonomi domestik maupun eksternal.

Tren ini juga mendorong bank mengoptimalkan layanan pengelolaan aset atau wealth management. PT Bank DBS Indonesia menjadi salah satu bank yang agresif mendorong bisnis ini. 

Head of Consumer Banking Segment & Liabilities Product DBS Indonesia, Natalina Syabana, menyebut segmen nasabah affluent memiliki pertumbuhan dana yang pesat.

"Kami punya research segmen affluent itu kecil memang hanya 1% dari populasi, tapi menguasai lebih dari 70% aset likuid," tuturnya. 

Natalina menegaskan bahwa peluang pertumbuhan dari aset nasabah affluent masih sangat besar, sehingga bank memiliki peran krusial dalam mengelola dana tersebut.

Terkini