Koperasi Dinilai Tidak Tepat Jika Dikelola dengan Model Militer

Kamis, 25 Juni 2026 | 18:25:31 WIB
Ilustrasi - koperasi merah putih. (Foto: NET)

JAKARTA - Pakar kebijakan publik dari Universitas Gadjah Mada (UGM), Agustinus Subarsono, berpandangan bahwa koperasi semestinya dijalankan melalui model kepemimpinan sipil. 

Hal ini dikarenakan tata kelola koperasi mengutamakan musyawarah dan keterlibatan anggota, berbeda dengan sistem komando di lingkungan militer.

"Koperasi saya pikir tepat dikelola dengan model kepemimpinan sipil, bukan model kepemimpinan militer, dengan sistem komando dan komunikasi satu arah," tutur Agustinus, Kamis (25/6/2026).

Menurutnya, demokrasi harus menjadi landasan utama. Pengurus koperasi perlu menciptakan komunikasi yang baik guna memahami kebutuhan anggotanya. 

"Dengan cara demikian, kehadiran koperasi dirasakan manfaat oleh para anggotanya. Dalam kaitannya dengan ini, maka pengetahuan tentang social mapping masyarakat sangat penting diberikan dalam pelatihan manajer koperasi," jelas Agustinus.

Agustinus menilai pendekatan militer justru berisiko mengesampingkan semangat demokrasi di koperasi. 

"Pelatihan manajer koperasi secara militeristik dapat berpotensi mengubah praktik tata kelola koperasi yang seharusnya mengutamakan demokrasi, partisipasi anggota, dan musyawarah menjadi sistem komando dan tidak ada budaya dialog serta mengedepankan komunikasi satu arah," tegasnya.

Ia menambahkan bahwa kegiatan Latihan Dasar Kemiliteran (Latsarmil) seperti baris-berbaris tidak relevan dengan tugas manajer koperasi. 

"Pelatihan yang berhubungan dengan penyusunan rencana kerja koperasi dan penyusunan manajemen keuangan yang profesional akan jauh lebih bermanfaat bagi keberhasilan koperasi daripada pelatihan baris berbaris dan apel pagi," ungkap Agustinus.

Terkait hal ini, Kementerian Pertahanan (Kemenhan) mencatat tiga calon manajer Koperasi Desa dan Kelurahan Merah Putih (KDMP) meninggal dunia saat mengikuti Latsarmil. 

Mereka adalah Anisa Muyassaroh yang wafat akibat heat stroke dan henti jantung, Yonanda Muhammad Taufiq akibat henti jantung, serta Novia Rahmadhani Sihotang karena penyakit Tuberkulosis.

Kemenhan menyatakan belasungkawa dan saat ini tengah melakukan evaluasi menyeluruh terhadap program pendidikan tersebut serta memperketat pengawasan kesehatan peserta demi menjamin keselamatan mereka.

Terkini