JAKARTA – Penurunan harga telur ayam ras yang terus berlangsung selama hampir satu bulan terakhir memicu kekhawatiran gulung tikar di kalangan peternak di Kota Batu, Jawa Timur. Guna mempertahankan keberlangsungan usaha, mereka terpaksa memangkas jumlah populasi dengan menjual ayam afkir atau ayam usia tua yang sudah tidak produktif lagi.
Situasi pelik ini salah satunya dirasakan oleh Sotya Hanief, pemilik ASegg Farm yang berlokasi di Kecamatan Junrejo, Kota Batu. Dari total sekitar 1.000 ekor ayam petelur yang awalnya dipelihara, kini jumlahnya berkurang menjadi sekitar 800 ekor setelah ia melakukan pengafkiran terhadap 200 ekor ayam secara bertahap.
"Terpaksa diafkir untuk mengurangi beban operasional. Kalau kondisi seperti ini terus, kami juga tidak tahu sampai kapan bisa bertahan," kata Sotya saat ditemui, Rabu (1/7/2026).
Setiap harinya, volume produksi telur di peternakan miliknya mampu mencapai 5 peti. Namun, nilai jual telur di tingkat peternak yang saat ini merosot ke angka Rp 18.000 hingga Rp 19.000 per kilogram membuat pendapatan yang diperoleh tidak sanggup menutup besarnya ongkos operasional.
Menurut analisis Sotya, kemerosotan harga ini disebabkan oleh melemahnya daya beli masyarakat yang kebetulan bertepatan dengan momentum bulan Suro dalam kalender Jawa serta masa liburan sekolah. Di sisi lain, tingkat produksi telur melimpah ruah akibat lonjakan populasi ayam petelur, sehingga membuat harga di pasaran kian tertekan.
"Yang paling berpengaruh itu daya beli masyarakat turun, ditambah overpopulasi sehingga produksi telur berlebih. Ini yang menyebabkan harga telur jatuh," ujarnya.
Sebagai langkah menekan kerugian, Sotya memilih untuk menyetop penambahan populasi ayam baru dan lebih fokus melakukan pengafkiran berkala. Kebijakan ini diambil demi memangkas jumlah hewan ternak agar biaya pemeliharaan berkurang sembari menanti harga telur merangkak normal kembali.
Meski begitu, Sotya menyebut keputusan tersebut tetap membawa konsekuensi tersendiri. Harga jual ayam afkir ikut terseret turun lantaran banyak peternak lain yang mengambil langkah serupa.
Ia memberikan gambaran, pada momen Idul Adha lalu harga ayam afkir masih berada di kisaran Rp 20.000 per kilogram, tetapi saat ini harganya jatuh ke angka Rp 13.000 hingga Rp 15.000 per kilogram.
“Tapi mau gimana lagi, satu-satunya cara untuk menekan biaya operasional ya dengan cara afkir, meskipun harga ayam afkir juga anjlok karena banyak peternak yang afkir juga,” ungkapnya.
Bagaimanapun juga, bagi Sotya, memasarkan ayam afkir tetap menjadi opsi rasional yang wajib diambil ketimbang harus mempertahankan seluruh populasi di tengah ketidakpastian harga telur yang belum memperlihatkan tanda-tanda pulih.
"Kami juga tidak berani menambah populasi karena tidak tahu kondisi harga murah ini akan berlangsung sampai kapan," katanya.
Sotya mengutarakan bahwa pada dasarnya para peternak sudah terbiasa menghadapi dinamika naik turunnya harga telur. Ketika harga sedang bagus, sebagian dari keuntungan tersebut biasanya akan dialokasikan sebagai dana cadangan untuk mengantisipasi masa-masa sepi seperti pada bulan Suro.
"Dulu pernah turun juga, tapi kali ini lama sekali. Hampir sama beratnya seperti saat pandemi Covid-19," ujarnya.
Para peternak di Kota Batu pun menaruh harapan besar agar situasi perekonomian bisa segera membaik, sehingga daya beli masyarakat pulih dan harga telur kembali stabil. Melalui kondisi tersebut, peternak diharapkan dapat terus menjalankan roda usahanya tanpa perlu dibayangi ketakutan akan kebangkrutan.
"Harapannya ekonomi membaik, harga pakan normal, dan harga telur mengikuti biaya produksi supaya peternak tidak terus merugi," pungkas Sotya.