Alasan Koenigsegg Belum Tertarik Beralih ke Mobil Listrik Murni

Kamis, 02 Juli 2026 | 05:16:31 WIB
Hypercar ternama asal Swedia, Koenigsegg. (Foto: NET)

JAKARTA – Produsen hypercar ternama asal Swedia, Koenigsegg, menegaskan bahwa mereka belum memiliki rencana untuk sepenuhnya beralih ke kendaraan listrik murni (battery electric vehicle/BEV). 

Saat ini, fokus utama perusahaan masih tertuju pada pemanfaatan mesin pembakaran internal (internal combustion engine/ICE) serta sistem hibrida dalam menciptakan setiap lini produknya.

Melansir dari Motor1, Chief Executive Officer (CEO) Koenigsegg Christian von Koenigsegg mengungkapkan, pabrik mereka yang berlokasi di Angelholm, Swedia, bakal terus merakit mobil hibrida dan bermesin konvensional sampai waktu yang belum ditentukan.

Pihaknya menjelaskan bahwa Koenigsegg sebenarnya mempunyai kapabilitas untuk merancang hypercar listrik. Walau begitu, teknologi yang tersedia saat ini dirasa belum mampu menyajikan sensasi berkendara yang menjadi ciri khas dari pabrikan tersebut.

"Kalau Anda bertanya kepada saya 10 tahun lalu, saya mungkin akan berpikir bahwa pada 2026 Koenigsegg sudah memiliki mobil listrik," ujarnya dikutip Kamis (2/7/2026).

Akan tetapi, pandangan tersebut bergeser sejalan dengan dinamika industri otomotif selama sepuluh tahun belakangan. Berdasarkan penuturan Christian, mesin pembakaran internal menyuguhkan pengalaman mengemudi yang tidak mudah disamai oleh mobil listrik.

Kombinasi raungan mesin, getaran, respons mekanis, hingga karakteristik pengendalian merupakan aspek penting yang menjalin ikatan emosional antara pengendara dengan mobilnya. 

Christian bahkan mengibaratkan mobil bermesin pembakaran seperti "organisme hidup", yang mana sensasi tersebut tidak ditemukan pada mobil listrik. Atas dasar pertimbangan tersebut, ia tidak menganggap mesin konvensional sekadar teknologi peralihan sementara yang kelak bakal ditinggalkan.

Di samping faktor emosi berkendara, sisi lingkungan juga menjadi perhatiannya. Ia menilai proses pembuatan baterai berukuran besar memicu jejak karbon yang relatif tinggi. Dampaknya, mobil listrik membutuhkan jarak tempuh yang jauh demi menyeimbangkan emisi yang dihasilkan.

Kondisi tersebut dinilai tidak sejalan untuk kelas hypercar, sebab mayoritas kendaraan di kategori ini umumnya menjadi barang koleksi yang lebih sering tersimpan di garasi ketimbang dipakai harian. Christian memprediksi titik impas emisi baru bisa dipenuhi sesudah mobil menempuh jarak sekitar 50.000 mil. 

Jarak itu bahkan bisa membengkak sampai kisaran 87.000 mil jika kendaraan mengonsumsi bahan bakar terbarukan seperti biofuel atau bioetanol. Berkaca pada pertimbangan tersebut, Koenigsegg memilih menyetop pengerjaan platform listrik murni yang sebelumnya pernah dirancang.

Langkah alternatif yang diambil perusahaan adalah memfokuskan pengembangan pada sistem hibrida lewat penggunaan baterai berkapasitas lebih kompak, seperti yang disematkan pada model Gemera. 

Strategi ini dirasa tetap ideal karena mobil bisa melaju tanpa suara di area perkotaan, menerapkan sistem pengereman regeneratif, sekaligus memangkas pemakaian bahan baku baterai.

Kendati demikian, Christian tidak mematikan peluang untuk merilis hypercar listrik di masa mendatang. Langkah itu nantinya bakal menyesuaikan dengan arah regulasi serta terobosan teknologi baterai, khususnya menyangkut bobot, ukuran, dan kebutuhan material dasarnya. 

Sembari menanti momentum tersebut, Koenigsegg memilih tetap mengoptimalkan bahan bakar E85 yang berbasis etanol.

Terkini