Strategi AirAsia Hadapi Penurunan Penumpang di Periode Low Season

Senin, 06 Juli 2026 | 03:51:32 WIB
PT Indonesia AirAsia. (Foto: NET)

JAKARTA — PT Indonesia AirAsia meyakini bahwa permintaan terhadap perjalanan udara bakal kembali meningkat pada paruh kedua tahun 2026, walaupun saat ini jumlah pengguna maskapai penerbangan masih merosot akibat memasuki masa low season.

Head of Indonesia Affairs and Policy Indonesia AirAsia, Eddy Krismeidi Soemawilaga, mengungkapkan bahwa penurunan minat masyarakat dalam menggunakan transportasi udara merupakan hal yang wajar setelah selesainya masa libur panjang.

“Meskipun terdapat perlambatan pada periode tertentu, kebutuhan masyarakat untuk bepergian melalui transportasi udara tetap memiliki fundamental yang positif, didukung oleh mobilitas untuk keperluan bisnis, pendidikan, mengunjungi keluarga, maupun pariwisata,” kata Eddy, Senin (6/7/2026).

Guna menyiasati situasi tersebut, pihak Indonesia AirAsia berupaya menyelaraskan volume penerbangan, permintaan pasar, serta efisiensi dalam operasional perusahaan. 

Maskapai ini juga menawarkan beragam program diskon, memperluas jangkauan rute lewat sistem Fly-Thru, serta mempertahankan ketepatan waktu sekaligus mutu pelayanan demi menyediakan opsi perjalanan yang bernilai bagi publik.

Berdasarkan penjelasan Eddy, fluktuasi permintaan moda transportasi udara ini dipengaruhi oleh bermacam-macam faktor, mulai dari tren musiman pascalibur panjang hingga situasi ekonomi, kapasitas daya beli publik, serta tujuan perjalanan itu sendiri.

Ia menerangkan bahwa walaupun harga bahan bakar avtur belakangan ini memperlihatkan kecenderungan yang membaik, pengeluaran operasional maskapai masih dibayangi komponen lain, seperti fluktuasi nilai tukar rupiah, biaya perawatan armada, harga sewa pesawat, hingga pengeluaran operasional pendukung lainnya. 

Oleh sebab itu, koreksi pada satu elemen biaya saja belum tentu serta-merta mengubah harga tiket secara menyeluruh.

Eddy menyebutkan bahwa prioritas utama Indonesia AirAsia saat ini adalah menyajikan nilai lebih untuk para penumpang lewat perpaduan harga yang kompetitif, rute penerbangan yang masif, serta pengalaman terbang yang aman, nyaman, dan tepat waktu. 

Pihak maskapai pun terus mempererat konektivitas rute terbang, salah satunya mengandalkan fasilitas Fly-Thru yang mempermudah penumpang mendatangi lebih banyak lokasi tujuan dengan sistem transit yang ringkas.

“Kami juga terus menjalankan berbagai program promosi secara berkala, mengoptimalkan kapasitas sesuai kebutuhan pasar, serta bekerja sama dengan berbagai pemangku kepentingan di sektor pariwisata untuk mendorong pertumbuhan perjalanan domestik maupun internasional,” katanya.

Sikap optimistis ini mencuat di kala tren jumlah penumpang angkutan udara terpantau sedang melandai. 

Merujuk pada data milik Badan Pusat Statistik (BPS), volume penumpang pesawat mengalami penurunan sebesar 10% secara bulanan pada Mei 2026 bila disandingkan dengan April 2026, serta menyusut hingga 9% jika dihitung secara tahunan. 

Kemerosotan tersebut dipicu oleh berakhirnya momen liburan panjang, sementara upaya untuk mendongkrak kembali permintaan pasar diprediksi masih menemui jalan terjal meskipun harga avtur dilaporkan mulai melandai dalam dua bulan terakhir.

Kendati demikian, Eddy menegaskan dirinya tetap melihat adanya peluang positif bagi bisnis penerbangan pada semester II/2026. 

Ia menilai, geliat dunia usaha yang mulai bergairah kembali, perjalanan untuk kebutuhan akademis, pelaksanaan berbagai acara skala nasional dan global, hingga datangnya masa liburan akhir tahun diproyeksikan mampu menjadi stimulus bagi pertumbuhan permintaan transportasi udara. 

Indonesia AirAsia pun bakal memantau dinamika pasar secara berkala serta menyesuaikan program komersial maupun volume kursi secara dinamis demi mengakomodasi keperluan para pelanggan.

Lebih jauh, ia berpandangan bahwa situasi merosotnya pasar saat ini lebih condong pada dinamika pasar yang bersifat musiman atau siklikal, bukan disebabkan oleh pergeseran fundamental pada minat masyarakat dalam bepergian menggunakan pesawat. 

Bisnis penerbangan dinilai memiliki karakteristik khusus yang sangat bergantung pada musim, kalender libur, serta stabilitas ekonomi.

“Ke depan, kami memperkirakan permintaan akan kembali menguat seiring hadirnya berbagai momentum perjalanan pada semester kedua. Meski demikian, Indonesia AirAsia akan tetap mengelola operasional secara disiplin dan adaptif agar mampu merespons setiap perkembangan pasar,” katanya.

Menurut pandangan Eddy, daya tahan bisnis penerbangan memerlukan sinergi dari seluruh pemangku kepentingan guna melahirkan ekosistem usaha yang sehat serta berkelanjutan. 

Faktor penentunya meliputi regulasi yang mempermudah konektivitas rute, upaya menjaga beban operasional agar tetap kompetitif, hingga peningkatan efisiensi pada tiap lini industri penerbangan. 

Di samping itu, akselerasi pada sektor pariwisata, perluasan jaringan menuju titik-titik destinasi, serta pembentukan iklim bisnis yang suportif juga memegang andil krusial dalam memicu lonjakan permintaan perjalanan udara.

“Indonesia AirAsia berkomitmen untuk terus menghadirkan layanan yang aman, andal, dan terjangkau, sekaligus mendukung pertumbuhan pariwisata dan perekonomian Indonesia,” tandasnya.

Terkini