Suku Bunga Tinggi Jadi Pemicu Maraknya IPO pada Semester II/2026

Selasa, 07 Juli 2026 | 00:26:31 WIB
Sucor Sekuritas Ramal Aksi IPO Kian Semarak di Semester II/2026 [FOTO: NET].

JAKARTA — Lembaga Sucor Sekuritas memproyeksikan pergerakan penawaran umum perdana saham (initial public offering/IPO) bakal semakin semarak pada paruh kedua tahun 2026 di tengah bergulirnya era suku bunga tinggi serta mahalnya biaya penggalangan dana lewat jalur kredit perbankan.

CEO PT Sucor Sekuritas Bernadus Wijaya memaparkan bahwasanya lompatan suku bunga serta biaya pendanaan dari industri perbankan memicu korporasi mulai melirik instrumen IPO sebagai wadah penggalangan dana dengan ongkos modal atau cost of money yang dinilai lebih kompetitif. 

Terlebih lagi, menurut penjelasannya, perusahaan-perusahaan yang ditopang oleh fundamental kokoh serta prospek bisnis yang berkelanjutan akan kian mempertimbangkan skema IPO selaku opsi pendanaan.

"Minat perusahaan untuk IPO saat ini cenderung meningkat. Dengan kondisi suku bunga yang tinggi, biaya pendanaan melalui pinjaman ikut naik, sehingga IPO menjadi salah satu alternatif yang menarik untuk memperoleh pendanaan dengan cost of money yang lebih rendah," ujarnya, Selasa (7/7/2026).

Melihat dari peta antrean atau pipeline, Sucor Sekuritas tercatat telah mematangkan kesiapan sejumlah calon emiten untuk melangsungkan pencatatan perdana di lantai bursa. Dalam waktu dekat, korporasi bakal mengawal PT Prodia Diagnostic Line Tbk. 

(PRDL) menuju pasar modal, sedangkan dua calon emiten lainnya yang bergerak di sektor teknologi serta media masih dalam tahap pertimbangan mengenai momentum pelaksanaannya.

"Kami memiliki dua pipeline lagi, tetapi masih mempertimbangkan apakah akan dilaksanakan pada semester II tahun ini atau semester I tahun depan," imbuhnya.

Bernadus mengutarakan, pihak Sucor Sekuritas pada umumnya mengelola korporasi yang memiliki bobot kapitalisasi pasar paling sedikit Rp200 miliar ketika menggelar IPO, kendati tidak menutup peluang untuk mengawal emiten dengan angka valuasi di atas nilai tersebut. Meski demikian, keputusan untuk mengantarkan korporasi menuju lantai bursa tidak semata-mata bertumpu pada aspek kesiapan dokumen administratif, melainkan juga bobot kualitas fundamental serta tingkat kompetitif valuasi yang ditawarkan.

"Kami harus memastikan fundamental perusahaan cukup kuat dan valuasinya menarik dibandingkan perusahaan sejenis. Kalau tidak kompetitif, tentu minat investor akan berkurang," jelasnya.

Ia mengambil contoh pada kesuksesan agenda IPO saham JELI serta PRDL yang dinilai mendapat sokongan kuat berkat penawaran valuasi yang sangat kompetitif. Bahkan, menurut pandangannya, taksiran nilai valuasi PRDL memposisikan diri selaku salah satu yang paling memikat bila disandingkan dengan calon emiten lainnya yang dijadwalkan melantai pada rentang periode yang sama. 

Di samping itu, kedudukan JELI selaku pemimpin pasar (market leader) pada sektor komoditas jelly dan makanan ringan turut mendongkrak daya pikat saham tersebut di mata para pemodal.

Consumer dan Healthcare jadi Favorit

Bernadus mengalkulasi bahwa sektor consumer goods beserta sektor ritel masih memegang predikat selaku lini paling prospektif dalam industri pasar IPO lantaran produk keluapannya bersentuhan langsung dengan kebutuhan masyarakat sehingga mekanismenya lebih gampang dimengerti oleh investor.

"Consumer goods dan retail merupakan sektor yang tidak ada habisnya. Produknya dekat dengan masyarakat sehingga lebih mudah menarik minat investor," katanya.

Di lain pihak, sektor healthcare terpantau ikut memperlihatkan momentum pergerakan yang kuat. Menurut penjelasannya, tingginya atensi pemodal terhadap aksi IPO dari korporasi kesehatan merefleksikan peningkatan perhatian khalayak luas terhadap aspek fasilitas layanan kesehatan.

"Awal semester II ini cukup banyak perusahaan healthcare yang masuk pasar. Ini menunjukkan perhatian masyarakat terhadap kesehatan semakin tinggi," terangnya.

Sebaliknya, untuk klaster sektor teknologi dinilai masih wajib menghadapi tantangan berat di tengah bergulirnya era rezim suku bunga tinggi. Bernadus menjabarkan, para investor untuk saat ini memperlihatkan kecenderungan untuk lebih condong memilih sektor yang menyuguhkan kepastian performa kinerja serta arus kas (cash flow) ketimbang korporasi yang menawarkan prospek pertumbuhan untuk jangka panjang.

"Dalam kondisi suku bunga tinggi, investor cenderung mencari sektor yang memberikan kepastian, sehingga sektor teknologi masih relatif lebih menantang dibandingkan sektor consumer," terangnya.

Terkini