OJK Catat IHSG Turun ke 5.643, Investor Asing Pilih Jual Saham

Selasa, 07 Juli 2026 | 01:35:51 WIB
Kepala Eksekutif Pengawas Pasar Modal, Keuangan Derivatif, dan Bursa Karbon OJK Hasan Fawzi. (Foto: NET)

JAKARTA - Otoritas Jasa Keuangan (OJK) melaporkan bahwa Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) mendapat tekanan yang cukup berat sepanjang bulan Juni 2026.

Kepala Eksekutif Pengawas Pasar Modal, Keuangan Derivatif, dan Bursa Karbon OJK Hasan Fawzi mengungkapkan, IHSG bertengger di posisi 5.643,19 pada akhir Juni 2026. 

Angka tersebut menunjukkan penurunan sebesar 7,9 persen secara bulanan (month to month/mtm) dan merosot 34,74 persen secara tahun berjalan (year to date/ytd).

"Investor asing pada periode tersebut membukukan net sell di saham, senilai Rp 19,63 triliun," ujarnya dalam konferensi pers hasil RDK OJK Bulanan Juni 2026 di Jakarta, Selasa (7/7/2026).

Menurut Hasan Fawzi, bursa saham dalam negeri selama kurun waktu tersebut masih berada di fase konsolidasi. Kondisi ini dipicu oleh efek ketidakpastian global yang terus berlanjut, sentimen serta kebijakan domestik di mata investor, hingga langkah penataan ulang portofolio para pemodal.

"Namun memasuki awal Juli 2026 ini, tekanan di pasar terpantau mereda dan akan terus kami cermati perkembangannya ke depan," ucapnya.

Kendati IHSG sedang tertekan, Hasan Fawzi memandang daya tahan beserta likuiditas pasar modal dalam negeri tetap berada dalam kondisi aman. 

Rata-rata nilai transaksi harian (RNTH) saham berada di angka Rp 22,23 triliun pada Juni 2026, yang mana nominal ini sedikit menyusut dari perolehan Mei 2026 sebesar Rp 22,86 triliun.

Berbanding terbalik dengan kondisi di lantai bursa, pada waktu yang sama, penanam modal asing justru gencar melakukan aksi beli bersih di pasar Surat Berharga Negara (SBN). Berdasarkan data OJK, sepanjang Juni 2026, pemodal asing mencatatkan net buy SBN hingga Rp 22,43 triliun (mtm). 

Sementara itu, Indonesia Composite Bond Index (ICBI) berada di level 429,85 pada akhir Juni 2026 atau mengalami koreksi 1,69 persen secara bulanan.

Di sisi lain, performa industri pengelolaan investasi menunjukkan perlambatan pada periode yang sama, terlihat dari nilai aktiva bersih (NAB) reksa dana yang menyentuh Rp 652,9 triliun, atau turun 4,79 persen (mtm) serta 3,32 persen (ytd). 

Sektor reksa dana ini juga membukukan penarikan dana bersih (net redemption) senilai Rp 23,75 triliun (mtm). Meski demikian, bila dihitung secara kumulatif sejak awal tahun, angka net redemption berada di level Rp 2,14 triliun.

Sebaliknya, tren pertumbuhan jumlah investor pasar modal terus melesat hingga 40,22 persen jika disandingkan dengan data akhir tahun 2025. Selama bulan Juni 2026 saja, ada pertumbuhan sebanyak 1,21 juta investor baru, sehingga melambungkan total keseluruhan investor pasar modal menjadi 28,96 juta.

Tinjauan dari aspek intermediasi menunjukkan pasar modal domestik masih konsisten menjalankan perannya menyediakan pendanaan jangka panjang untuk korporasi. Sampai dengan Juni 2026, total dana yang berhasil dihimpun (fundraising) oleh korporasi di pasar modal menembus angka Rp 112,67 triliun.

"Dan masih terdapat 11 rencana penawaran umum di dalam pipeline," imbuhnya.

Selanjutnya, akumulasi dana yang berhasil dikumpulkan lewat securities crowdfunding (SCF) tercatat sudah menyentuh Rp 1,98 triliun. Pada sektor pasar keuangan derivatif, total volume transaksi secara kumulatif telah mencapai 235.343 lot. 

Terakhir di sektor Bursa Karbon, tercatat ada 155 pengguna jasa yang terdaftar hingga Juni 2026, dengan volume perdagangan sebanyak 1,98 juta ton karbondioksida ekuivalen (CO2e) serta total nilai transaksi kumulatif sebesar Rp 93,81 miliar.

Terkini