Serap 3,3 Juta Ton Beras Petani, Bapanas Amankan Stok Pangan Nasional

Rabu, 08 Juli 2026 | 23:54:31 WIB
Kepala Bapanas sekaligus Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman. (Foto: NET)

JAKARTA – Badan Pangan Nasional (Bapanas) mengumumkan bahwa penyerapan gabah petani yang setara dengan beras telah menyentuh angka 3,3 juta ton sepanjang semester pertama tahun 2026. Langkah ini dilakukan guna memperkokoh Cadangan Beras Pemerintah (CBP) sekaligus menjaga stabilitas pangan di tanah air.

"Realisasi penyerapan setara beras dari produksi dalam negeri yang dilaksanakan selama semester pertama ini telah mencapai sebanyak 3,3 juta ton," kata Kepala Bapanas sekaligus Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman dalam keterangan di Jakarta, Rabu (8/7/2026).

Proses penyerapan gabah ini digulirkan lewat Perum Bulog selaku pihak yang menerima penugasan dari pemerintah. Tujuannya adalah untuk menjaga agar harga gabah di tingkat petani tidak merosot, sekaligus menjamin ketersediaan CBP tetap berada di posisi aman demi memenuhi keperluan nasional.

Sepanjang periode Januari hingga Juni 2026, Indonesia mencatatkan estimasi produksi beras domestik yang melingkupi dan melebihi total kebutuhan konsumsi masyarakat secara nasional. 

Kendati mengalami surplus, pemerintah tetap melakukan langkah antisipasi agar harga beli di tingkat petani tidak jatuh terlalu dalam.

Mentan menegaskan bahwa pemerintah menyediakan jaring pengaman harga gabah bagi para petani lewat regulasi harga pembelian pemerintah (HPP) untuk gabah kering panen (GKP) minimal senilai Rp6.500 per kilogram (kg), yang penerapannya terus dikawal oleh Perum Bulog.

"Harga gabah kami jaga. HPP gabah yang ditetapkan pemerintah yang membuat petani bahagia, itu Rp6.500 per kilo," ujar Amran.

Berdasarkan catatan Bapanas pada triwulan pertama, akumulasi produksi beras periode Januari-Maret menyentuh 9,63 juta ton. Di sisi lain, keperluan konsumsi pada rentang waktu tersebut berada di angka 7,76 juta ton.

Kondisi tersebut menunjukkan adanya surplus sebesar 1,86 juta ton. Sementara itu, total beras yang diserap oleh Bulog pada triwulan pertama berada di angka 1,46 juta ton, sehingga terdapat sisa 400,8 ribu ton yang bisa diakomodasi oleh pihak swasta sebagai cadangan tambahan.

Memasuki triwulan kedua, jumlah produksi beras diproyeksikan mampu menyentuh 9,64 juta ton. Angka ini terpantau masih di atas estimasi kebutuhan konsumsi beras periode April-Juni yang diprediksi sebesar 7,72 juta ton. 

Surplus produksi terhadap konsumsi terdokumentasi mencapai 1,92 juta ton, dan Bulog telah menyerap setara beras hingga 1,83 juta ton sejak April sampai Juni.

Secara akumulatif, total produksi beras sepanjang Januari-Juni diestimasi bisa menembus 19,27 juta ton, dengan tingkat kebutuhan konsumsi beras Januari-Juni sebesar 15,48 juta ton. Dengan demikian, surplus produksi terhadap konsumsi pada semester pertama ini berada di angka 3,79 juta ton.

Di waktu yang sama, realisasi penyerapan setara beras dari hasil panen dalam negeri yang digarap oleh Bulog selama semester pertama ini sudah menyentuh 3,3 juta ton. Masih terdapat sisa surplus sebanyak 483,9 ribu ton yang berpeluang diserap oleh pelaku usaha swasta demi menambah pasokan mereka.

Amran menggaransi bahwa ketersediaan pangan di Indonesia berada dalam kondisi siap untuk melewati musim kemarau pada tahun ini. Pasokan beras nasional, termasuk di dalamnya stok CBP, berada pada posisi yang sangat kokoh dengan jumlah mencapai 5 juta ton untuk komoditas beras.

Lebih lanjut Amran menambahkan keberhasilan menjaga ketahanan pangan juga tercermin dari meningkatnya kesejahteraan petani, ditandai Nilai Tukar Petani Subsektor Tanaman Pangan (NTPP) Juni 2026 mencapai 114,65 atau naik 0,86 dibandingkan bulan sebelumnya.

Merujuk pada data resmi Badan Pusat Statistik (BPS), kenaikan angka NTPP ini dipicu oleh meningkatnya indeks harga yang diperoleh petani padi serta palawija, di mana indeks harga padi menyentuh angka 149,65 atau menjadi yang tertinggi dalam kurun waktu tujuh tahun belakangan.

Terkini