Transformasi Digital: Adopsi AI di Industri Perbankan Meroket

Rabu, 08 Juli 2026 | 03:41:01 WIB
Kepala Eksekutif Pengawas Perbankan OJK, Dian Ediana Rae. (Foto: NET)

JAKARTA — Teknologi kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI) kini bukan lagi sekadar pelengkap inovasi teknologi di sektor perbankan. 

Dalam dua tahun belakangan, AI telah bergeser menjadi pilar utama dalam transformasi digital yang memperbarui metode pelayanan nasabah, manajemen risiko, hingga perumusan keputusan bisnis.

Berdasarkan hasil survei yang dilakukan Perbanas bersama IBM, tingkat implementasi AI di sektor perbankan merangkak naik secara signifikan. 

Dari yang sebelumnya berada di kisaran 30% pada tahun 2024, angka tersebut naik menjadi 42% pada 2025, dan melonjak hingga mencapai 57,9% pada triwulan pertama tahun 2026. 

Pertumbuhan yang hampir mencapai dua kali lipat dalam periode dua tahun ini mengindikasikan bahwa dunia perbankan tengah melangkah ke fase transformasi digital baru, di mana AI diposisikan sebagai instrumen strategis untuk memperkuat daya saing, bukan lagi sekadar proyek uji coba inovasi.

Kepala Eksekutif Pengawas Perbankan OJK, Dian Ediana Rae, mengungkapkan bahwa tren ini membuktikan AI telah menjadi komponen krusial dalam transformasi digital di industri perbankan. 

Ia menilai penggunaan AI dapat mendongkrak efisiensi operasional, kapasitas produksi, sekaligus mengoptimalkan pengalaman para nasabah. Kendati demikian, penerapan teknologi anyar ini wajib dijalankan dengan tetap memprioritaskan tata kelola yang ideal serta kepatuhan terhadap regulasi yang berlaku.

“Perkembangan ini menunjukkan bahwa AI telah menjadi bagian penting dari transformasi digital industri perbankan dalam meningkatkan efisiensi, produktivitas, dan pengalaman nasabah,” kata Dian dalam keterangannya beberapa waktu lalu.

Pandangan seirama turut dilontarkan oleh Direktur Wholesale KB Bank, Widodo Suryadi. Menurut pandangannya, akselerasi adopsi AI merupakan suatu hal yang tidak dapat dihindari oleh sektor perbankan.

“Adopsi AI bukan lagi sekadar tren, tetapi sudah menjadi keharusan secara strategis,” ujar Widodo dalam diskusi bersama media di Jakarta Selatan, Kamis (2/7/2026).

Walau demikian, KB Bank memilih untuk mengintegrasikan AI secara bertahap. Pihak bank tidak langsung menerapkan teknologi ini dalam skala masif, melainkan memulainya dari sektor-sektor yang dapat memberikan keuntungan konkret bagi jalannya bisnis. 

Widodo memaparkan bahwa langkah awal bank adalah memanfaatkan AI untuk menaikkan ketepatan keputusan bisnis, seperti lewat pemindaian laporan keuangan, analisis riwayat mutasi rekening koran, hingga pemanfaatan sistem pelacak anomali (fault detection system). 

Data hasil analisis tersebut lalu dijadikan referensi dalam mengukur kelayakan calon debitur serta pemberian fasilitas kredit tambahan, termasuk pada sektor UMKM dan kredit pemilikan rumah (KPR).

Ia menambahkan, perluasan implementasi AI ke fungsi bisnis lainnya harus disokong oleh kesiapan infrastruktur teknologi, proteksi data, serta kepatuhan pada aturan OJK.

“Bagi kami keberhasilan AI bukan diukur dari seberapa masif implementasinya, tetapi seberapa besar dampak nyata terhadap kualitas layanan dan pengalaman nasabah,” katanya.

Kebutuhan Strategis

Direktur Allo Bank, Ganda Raharja Rusli, berpendapat bahwa lonjakan penggunaan AI dipicu oleh kebutuhan strategis pelaku industri untuk bertahan dan unggul dalam kompetisi. Menurutnya, ada beberapa aspek yang mempercepat penetrasi AI. 

Pertama, tingginya kebutuhan untuk menyajikan layanan hyper-personalization karena ekspektasi nasabah yang makin spesifik. Lewat bantuan AI, bank dapat membedah perilaku transaksi, tren pengeluaran, hingga preferensi nasabah secara real-time, sehingga penawaran produk ataupun promo menjadi lebih akurat bagi tiap nasabah.

Kedua, adanya urgensi untuk mendongkrak efisiensi operasional dan memangkas pengeluaran, yang mendorong bank mengotomatisasi beragam alur bisnis. 

Ketiga, AI memperkokoh manajemen risiko lewat kapabilitas melacak transaksi mencurigakan secara instan sekaligus mempercepat kalkulasi credit scoring, khususnya untuk sektor UMKM serta masyarakat yang belum terjangkau akses kredit konvensional. 

Di samping itu, tingkat kematangan teknologi generative AI sepanjang 2025 sampai 2026 turut mempermudah industri dalam mengadopsi teknologi ini.

Meski begitu, Ganda melihat bahwa pemanfaatan AI di sektor perbankan sejatinya masih di tahap awal. Oleh sebab itu, dampak konkretnya terhadap efisiensi kerja maupun peningkatan mutu layanan masih memerlukan waktu agar dapat terlihat secara menyeluruh.

“Saat ini masih cukup awal untuk melihat perubahan model bisnis dan daya saing industri perbankan sebagai hasil dari penerapan AI dalam perbankan, namun dampak awal bisa terlihat dari efisiensi operasional,” tutur Ganda, Selasa (7/7/2026).

Di sisi lain, Staf Riset Ekonomi Makro BTN, Myrdal Gunarto, menilai pesatnya adopsi AI menandakan evolusi transformasi digital perbankan menuju fase baru bernama cognitive banking

Menurut analisisnya, jika transformasi digital pada dekade lampau hanya berfokus mengalihkan layanan ke platform digital layaknya mobile banking, maka fase terkini berkomitmen membentuk sistem digital yang sanggup berpikir, memprediksi, serta membantu proses pengambilan keputusan secara lebih cerdas.

Fenomena pergeseran ini terlihat dari meningkatnya anggaran investasi perbankan untuk sektor infrastruktur data, komputasi awan, hingga pengadaan lisensi AI. Pola pelayanan nasabah pun kian mengarah pada personalisasi skala besar berbasis rekam jejak transaksi tiap individu. 

Dampak lainnya, industri perbankan kini mulai memburu talenta baru seperti data scientist, AI engineer, hingga pakar tata kelola data demi menyokong penerapan teknologi tersebut. Myrdal menekankan bahwa harmonisasi antara inovasi dan proteksi data merupakan syarat mutlak agar transformasi ini bisa berjalan secara kontinu.

Sementara itu, Direktur BCA Syariah, Pranata, mengutarakan bahwa pihaknya mengoptimalkan AI sebagai instrumen pembantu guna mendongkrak efektivitas proses kerja, khususnya dalam hal memperkuat proteksi sistem dan analisis data. 

Namun, ia menekankan bahwa layanan perbankan tetap memerlukan aspek humanis yang tidak bisa seutuhnya diwakili oleh peranti teknologi.

“Kami meyakini AI akan bersinergi dengan layanan yang humanis sehingga mampu meningkatkan keandalan produk dan layanan perbankan syariah,” ujar Pranatas, Selasa (7/7/2026).

Masih Banyak Tantangan

Di balik tren kenaikan adopsi AI, sederet hambatan masih mengintai industri ini. Senior Vice President Lembaga Pengembangan Perbankan Indonesia (LPPI), Trioksa Siahaan, berpandangan bahwa naiknya tingkat pemanfaatan AI mengindikasikan sektor perbankan mulai beralih dari sekadar otomatisasi sederhana menuju pemanfaatan generative AI dan agentic AI yang berpeluang mengubah model bisnis perbankan.

Ia menilai teknologi tersebut mampu mempercepat aktivitas intermediasi melalui credit scoring yang memanfaatkan data nontradisional, sekaligus memicu efisiensi kerja. Kendati begitu, ia mengingatkan agar transformasi AI tidak sekadar mengejar angka statistik adopsi yang tinggi. 

Sektor perbankan saat ini masih berhadapan dengan masalah tata kelola AI yang belum matang, kualitas data serta infrastruktur lama (legacy), kesenjangan kompetensi SDM, besarnya modal investasi yang dibutuhkan, ketidakpastian indikator pengembalian investasi (ROI), hingga ketergantungan pada vendor teknologi luar negeri yang berkelindan dengan isu keamanan siber serta kedaulatan data.

“Karena tanpa itu semua lompatan angka adopsi berisiko menjadi statistik yang belum berarti,” pungkasnya.

Terkini