Jaga Pembiayaan Jantung, BPJS Kesehatan Andalkan Strategi HTA

Kamis, 16 Juli 2026 | 20:42:01 WIB
Direktur Utama BPJS Kesehatan, dr. Prihati Pujowaskito. (Foto: NET)

JAKARTA – BPJS Kesehatan menekankan perlunya sinergi antara teknologi medis, efisiensi biaya, dan kebijakan berbasis bukti melalui Health Technology Assessment (HTA). Langkah ini ditujukan untuk menjamin keberlangsungan pembiayaan penyakit kardiovaskular di Tanah Air.

Direktur Utama BPJS Kesehatan, dr. Prihati Pujowaskito, menyampaikan dalam forum Annual Scientific Meeting of the Indonesian Heart Association (ASMIHA) ke-35 di Jakarta, Kamis (16/7/2026), bahwa lonjakan beban penyakit jantung memberikan dampak signifikan terhadap pendanaan Jaminan Kesehatan Nasional (JKN). 

Berdasarkan data BPJS Kesehatan, biaya layanan penyakit jantung mencapai sekitar Rp12,1 triliun dengan total pelayanan mencapai 15 juta kasus.

"Penerapan inovasi harus memberikan manfaat klinis yang nyata sekaligus menjaga keberlanjutan sistem pembiayaan nasional. Dengan demikian, masyarakat tetap memperoleh akses terhadap terapi terbaik tanpa membebani sistem kesehatan secara berlebihan," ujar Prihati.

Menurut Prihati, urgensi tersebut kian relevan karena penyakit jantung merupakan salah satu penyakit katastrofik dengan beban pembiayaan tertinggi dalam Program JKN.

Merujuk pada data Kementerian Kesehatan, penyakit kardiovaskular masih menjadi penyebab kematian utama di Indonesia. Serangan jantung dan stroke merenggut hampir 800 ribu nyawa setiap tahunnya. 

Selain itu, Indonesia menghadapi tantangan berupa peningkatan mobilitas pasien yang memilih mencari layanan kesehatan ke luar negeri.

Kondisi ini menegaskan bahwa transformasi layanan jantung nasional tidak lagi sekadar bergantung pada kemajuan teknologi dan kompetensi klinis, tetapi juga memerlukan pemerataan tenaga spesialis, keberlanjutan pembiayaan, kualitas pengalaman pasien, hingga penguatan kepercayaan masyarakat terhadap sistem kesehatan domestik.

Ketua Kolegium Jantung dan Pembuluh Darah Indonesia, dr. Renan Sukmawan, menyatakan bahwa tantangan tersebut bukan lagi semata-mata berkaitan dengan kemampuan klinis. Kompetensi dokter jantung Indonesia sudah mampu bersaing dengan standar global.

Ia menambahkan, pengalaman pasien (patient experience) menjadi faktor kunci dalam membangun kepercayaan masyarakat.

"Kualitas pelayanan tidak berhenti pada tindakan medis. Transparansi komunikasi, pelayanan yang humanis, proses yang mudah dipahami, serta pengalaman pasien sejak pertama datang hingga selesai menjalani perawatan merupakan bagian penting dalam membangun kembali trust masyarakat terhadap layanan kesehatan Indonesia," katanya.

Ketua The 35th ASMIHA 2026, dr. Amir Aziz Alkatiri, menambahkan bahwa forum ini mempertemukan pemerintah, organisasi profesi, akademisi, hingga penyedia layanan kesehatan untuk membahas arah transformasi ekosistem kardiologi Indonesia secara komprehensif.

Terkini