JAKARTA - Memiliki usia panjang merupakan sebuah berkah, namun hal tersebut kurang bermakna apabila tidak dibarengi dengan kondisi fisik yang prima di masa tua. Saat ini, dunia menghadapi fenomena peningkatan harapan hidup yang justru dibarengi lonjakan angka penyakit tidak menular.
Merujuk data WHO dan BPS Indonesia, dr. Febby Astari, IFMCP, dari Seraphim Medical Center mengungkapkan bahwa rata-rata usia harapan hidup (lifespan) global berada pada angka 73,6 tahun.
Sayangnya, angka usia sehat (healthspan) di Indonesia masih di bawah rata-rata global, yakni berhenti di angka 63,1 tahun. Terdapat kesenjangan sekitar 8,3 tahun, di mana banyak orang menghabiskan sisa hidupnya dalam kondisi mengidap penyakit kronis atau disabilitas fisik.
"Umur tuh kami enggak bisa hindari. Setiap tahun kami akan bertambah umur, tapi kalau declining daripada kognitif kami, kesehatan kami, itu opsional," ucap dr. Febby dalam sesi bincang-bincang bertajuk "Rahasia Modern untuk Panjang Umur, Bongkar di Sini!" pada acara Ageless Festival di Pondok Indah Mall 3, Jakarta Selatan, Minggu (14/6/2026).
Tingginya penderita penyakit tidak menular menjadi penyumbang terbesar penurunan kualitas hidup lansia. Data yang dipaparkan dr. Febby menunjukkan 76 persen kematian di Indonesia disebabkan penyakit seperti masalah jantung, diabetes, dan kanker.
Hal ini perlu perhatian serius karena Indonesia diproyeksikan menjadi aging society dengan populasi lansia mencapai 20 persen pada 2045.
Pusat layanan medis preventif dengan konsep one stop service kini kian relevan untuk memudahkan masyarakat.
"Di situ ada wellness, ada aesthetic, and then ada sports and rehab juga. Jadi orang yang mau cantik bisa secara di luarnya, secara sehat di dalamnya juga bisa," jelas dr. Febby. "Mumpung masih pada muda-muda, masih produktif, ini sebenarnya waktu yang tepat untuk kami nabung kesehatan kami ke depannya," tambah dia.
Untuk mengatasi kesenjangan usia sehat, langkah awal yang harus dilakukan adalah memahami apa yang terjadi di dalam sel. Penyakit kronis degeneratif biasanya bermuara pada empat masalah dasar, yaitu disfungsi mitokondria, peningkatan inflamasi, ketidakseimbangan hormonal, serta disregulasi otonom.
dr. Febby menganalogikan disfungsi mitokondria seperti kerusakan pada pusat tenaga listrik di perkotaan yang terjadi di dalam sel.
"Jadi kalau PLN-nya aja rusak, ya otomatis ke depannya dia akan low energy, badannya enggak punya metabolisme," paparnya.
Kabar baiknya, kerusakan metabolisme di usia lanjut bukanlah vonis mati yang tidak bisa diperbaiki. Pendekatan pengobatan modern kini berfokus mengembalikan fungsi tubuh menuju kondisi biologis yang lebih prima.
"Sistem kesehatan seseorang itu sangat bisa reversible, bisa diperbaiki. Pertama kami pasti coba dengan perubahan pola hidup dulu," tutur dr. Dwi Kristanto Wongso, M.Biomed (AAM) atau dr. Kris di acara yang sama.
Pengobatan ini menitikberatkan pada nutrisi dan pergerakan fisik ketimbang intervensi kimia, mencakup konsumsi makanan bergizi, olahraga teratur, hingga istirahat cukup.
"Kami akan usahakan dari pola hidup pasiennya dulu. Tapi kalau misalnya memang dengan itu dirasa masih perlu bantuan dari luar, kami bahkan bantu dari treatment-treatment dari luar," ujar dr. Kris.
Ia menegaskan langkah perbaikan ini dapat dilakukan siapa saja.
"Tidak ada penyakit bawaan pun itu tetap bisa kami kembalikan kok fungsi kesehatannya, kami usahakan supaya bisa jadi lebih muda dari usia pasien," imbuhnya.