JAKARTA – Rutinitas dan tekanan pekerjaan yang tinggi menjadikan usia produktif rentan terkena stres kronis. Sering kali, kondisi kelelahan mental yang menumpuk ini tidak disadari, padahal sudah mulai mengacaukan kestabilan jiwa hingga memicu respons berlebihan terhadap masalah yang sepele.
"Kok kayaknya situasi stresnya sebenarnya kecil, tapi reaksi emosi yang kami rasakan kok besar ya," tutur psikolog klinis di Ibunda.id, Daniar Dhara Fainsya, M.Psi., Psikolog, dalam sesi talkshow bertajuk "Mental Health Sebagai Investasi Anti-aging Terbaik" di Ageless Festival, Pondok Indah Mall 3, Jakarta Selatan, Minggu (14/6/2026).
Untuk mengenali apakah stres telah menumpuk terlalu lama, evaluasi mandiri dapat dilakukan pada tiga aspek: pikiran, perasaan, dan perilaku. Dari sisi perasaan, selain emosi yang meledak pada pemicu kecil, stres juga bisa ditandai dengan perasaan mati rasa saat menghadapi persoalan besar.
"Tekannya sebenarnya besar, tapi kok kami enggak bisa merasakan emosinya ya?" ucap Daniar. Dari sisi kognitif, stres ditandai dengan kecenderungan terus-menerus memikirkan hal-hal buruk, yang akhirnya berdampak pada perilaku sehari-hari. "Kok kami selalu terus-menerus mengulang pikiran-pikiran yang mengarah ke hal-hal yang negatif, yang justru membuat kami jadi enggak produktif secara perilaku," tambah dia.
Jika gangguan pada aspek tersebut menetap, dukungan tenaga profesional sangat disarankan.
"Sudah dicoba dikelola dengan sendiri tapi rasanya masih sulit, dan pada akhirnya ya enggak apa-apa banget untuk mencari bantuan profesional," imbau dr. Rayhan Maditra Indrayanto, Sp.KJ, psikiater di Siloam Specialist Center Senayan.
Pengelolaan stres dapat dilakukan dengan membagi fokus pada regulasi emosi serta penyelesaian masalah. Tahap awal yang disarankan Daniar adalah menurunkan intensitas perasaan terlebih dahulu. Setelah emosi stabil, seseorang dapat melakukan penyelesaian masalah dengan mengubah persepsi atau reframing.
"Ini adalah bagaimana kami memandang suatu masalah dengan sudut pandang berbeda," jelas dr. Rayhan.
Selain itu, penyelesaian masalah bisa fokus pada tindakan yang aplikatif, seperti manajemen waktu atau menyusun kembali rutinitas harian agar lebih terstruktur.
Meski demikian, mengubah sudut pandang bukan berarti harus selalu bersikap positif. Saat tertekan, emosi negatif tetap perlu divalidasi dan diakui untuk memahami pesan di balik stres tersebut.
"Itu (emosi) disadari dulu, kami kasih nama dulu, kemudian kami lihat, apa sebenarnya pesan yang ingin disampaikan dari stres yang datang?" papar Daniar.
Mencari bantuan ke psikolog tidak perlu menunggu kondisi mental benar-benar terpuruk. Langkah preventif sangat dianjurkan. Terkait penanganan, psikolog dan psikiater umumnya bekerja secara kolaboratif.
Jika konsultasi dengan psikolog selama beberapa pertemuan belum membuahkan hasil, atau upaya perbaikan gaya hidup gagal, rujukan ke psikiater akan diberikan.
Di sisi lain, rujukan ke psikiater menjadi wajib jika pasien mulai menunjukkan indikasi membahayakan diri sendiri atau orang lain.
"Pikiran untuk menyakiti diri, untuk mengakhiri hidup, atau menyakiti orang lain," ungkap dr. Rayhan.
Terkait intervensi medis, psikiater akan memastikan kebutuhan akan obat secara transparan, termasuk memberikan edukasi penuh mengenai manfaat, cara kerja, hingga estimasi waktu penyembuhan kepada pasien.