Mengapa Stres Kronis Bisa Mempercepat Penuaan Fisik?

Mengapa Stres Kronis Bisa Mempercepat Penuaan Fisik?
Ilustrasi - Tekanan Mental. (Foto: NET)

JAKARTA - Masalah kesehatan mental ternyata tidak hanya memengaruhi pikiran dan perasaan, melainkan juga memberikan efek nyata bagi kesehatan fisik. Belakangan ini, topik seputar kesehatan jiwa sebagai salah satu bentuk investasi anti-aging mulai ramai dibahas. 

Hal ini didasari oleh keyakinan bahwa tekanan psikologis menjadi salah satu faktor utama yang membuat seseorang tampak lebih tua dari usia aslinya. Fenomena ini terjadi karena tubuh merespons ketegangan pikiran lewat serangkaian proses biologis yang akhirnya mengubah kondisi pada level seluler.

Mekanisme Fight or Flight dan Hormon Kortisol

Berdasarkan penjelasan psikiater dr. Rayhan Maditra Indrayanto, Sp.KJ, yang berpraktik di Siloam Specialist Center Senayan, stres pada dasarnya memiliki sifat netral secara medis. 

Dalam porsi tertentu, kondisi ini bahkan diperlukan sebagai penggerak agar seseorang bisa segera mengambil langkah konkret.

"Kita butuh stres kalau dikejar deadline, dikejar anjing galak, ataupun ada ancaman-ancaman lainnya," papar dia dalam sesi talkshow bertajuk "Mental Health Sebagai Investasi Anti-aging Terbaik" di Ageless Festival, Pondok Indah Mall 3, Jakarta Selatan, Minggu (14/6/2026).

Sayangnya, sebagian besar tekanan di zaman modern tidak lagi berwujud fisik, melainkan muncul dari dalam pikiran kita sendiri. Saat menghadapi tekanan tersebut, otak bertindak sebagai pusat kendali utama yang meneruskan sinyal ke bagian amigdala dan hipotalamus. 

Dokter Rayhan menjelaskan bahwa interaksi antarstruktur ini memicu sistem saraf untuk memposisikan tubuh dalam mode siaga atau melarikan diri (fight or flight).

"Sistem saraf ini dia akan menyiapkan jantung kita supaya berdebar lebih kuat," ucap suami dari penyanyi Isyana Sarasvati itu.

Bukan hanya detak jantung yang meningkat, frekuensi napas juga menjadi lebih cepat dan otot-otot tubuh menegang agar selalu siap menghadapi situasi. 

Meski begitu, dr. Rayhan mengingatkan bahwa kondisi siaga yang aktif secara terus-menerus akan sangat membebani fisik manusia.

"Bisa dibayangkan kalau itu terus-menerus terjadi, apa yang dirasakan? Capek juga badannya. Nah, itu yang dirasakan ketika kita mengalami stres kronis," tutur dia.

Dari sudut pandang psikologi, reaksi biologis yang ekstrem ini sebenarnya dapat diredam jika seseorang mampu melihat tekanan sebagai sebuah kesempatan untuk memperbarui diri, bukan sekadar sebagai ancaman.

"Kalau misalnya distress itu, kita merasa bahwa situasi yang menekan itu berarti membawa sebuah ancaman," ucap psikolog klinis di Ibunda.id, Daniar Dhara Fainsya, M.Psi., Psikolog.

Sebaliknya, jika tekanan tersebut dihadapi secara positif sebagai ruang untuk berkembang (eustress), tubuh tidak akan masuk ke dalam mode siaga penuh.

"Ketika kita bisa mencapai persepsi stres yang itu (eustress), maka kita akan terhindar dari fight or flight mode. Itu yang akan menyelamatkan diri kita dari penuaan akibat kortisol," imbuh Daniar.

Dampak Pemendekan Telomer pada Proses Penuaan

Ketika beban pikiran terlanjur dianggap sebagai ancaman, otak akan memerintahkan kelenjar adrenal di atas ginjal untuk memproduksi hormon stres bernama kortisol. 

Hormon ini berfungsi untuk mengontrol metabolisme gula agar tubuh mendapatkan energi tambahan selama masa siaga.

"Kalau kortisolnya itu terus-menerus ada di dalam tubuh kita, ya bisa dibayangkan jadinya kita selalu kayaknya tuh harus aktif," ungkap dr. Rayhan.

Situasi cemas dan waspada yang berlangsung tanpa henti ini pada akhirnya terbukti mengganggu proses pemulihan sel tubuh. Penuaan secara fisik dapat dideteksi lewat perubahan molekuler yang terjadi di ujung kromosom, yang dikenal dengan nama telomer.

"Setiap kali sel kita membelah diri atau meregenerasi, telomer ini akan berkurang panjangnya," tutur dr. Rayhan.

Mekanisme pembelahan sel ini memiliki batas maksimal. Dokter Rayhan menambahkan, pada rentang usia tertentu, telomer akan menjadi sangat tipis hingga sel tubuh kehilangan kemampuan untuk membelah ataupun meregenerasi diri lagi.

"Di saat itulah tubuh kita tidak bisa melanjutkan usianya," lanjut dr. Rayhan.

Telomer berfungsi layaknya jam biologis yang mengontrol batas umur sel tubuh. Tekanan psikologis kronis yang terakumulasi selama bertahun-tahun akan mempercepat penipisan pelindung ujung kromosom ini secara signifikan, bahkan jauh melampaui kecepatan penuaan yang normal.

"Kadar stres yang berlebih akan memendekkan kadar telomer ini," kata dia.

Rangkaian proses biologis mulai dari pelepasan kortisol hingga memendeknya kromosom ini menjadi bukti nyata bahwa kesehatan mental berkaitan erat dengan kondisi fisik manusia. 

Oleh karena itu, menerima dan memvalidasi perasaan negatif yang hadir setiap hari menjadi langkah awal yang penting untuk mengelola beban pikiran sebelum telomer menyusut drastis.

Pada akhirnya, menjaga kesehatan jiwa dan melakukan perawatan biologis memerlukan kesadaran serta peran aktif dari masing-masing orang, tanpa bisa sepenuhnya bertumpu pada petugas medis saja.

"Mental health itu sama dengan kita merawat dan menjaga kehidupan kita," pungkas dr. Rayhan.

Rekomendasi

Index

Berita Lainnya

Index