Kredit Perbankan Tembus Double Digit, Tumbuh 11,51% per Mei 2026

Kredit Perbankan Tembus Double Digit, Tumbuh 11,51% per Mei 2026
Gubernur BI Perry Warjiyo. (Foto: NET)

JAKARTA - Pertumbuhan penyaluran kredit berhasil mencapai angka dua digit menjelang akhir kuartal II-2026. Bank Indonesia (BI) melaporkan bahwa kredit perbankan pada Mei 2026 mencatatkan kenaikan sebesar 11,51% secara tahunan (year on year/YoY), meningkat dari capaian April 2026 yang berada di posisi 9,89% YoY.

Gubernur BI Perry Warjiyo menyatakan bahwa realisasi tersebut membuktikan peran penting kredit perbankan dalam mendorong pertumbuhan ekonomi nasional. Secara rinci, kredit investasi melonjak 21,95% YoY, kredit modal kerja meningkat 8,09% YoY, dan kredit konsumsi tumbuh 5,89% YoY.

Berkat pencapaian ini, BI optimistis target pertumbuhan kredit sepanjang tahun ini dapat tercapai. 

"Bank Indonesia memperkirakan pertumbuhan kredit 2026 tetap terjaga pada kisaran 8%--12%," ujar Perry dalam konferensi pers hasil Rapat Dewan Gubernur (RDG) BI, Kamis (18/6/2026).

Perry menjelaskan, optimisme tersebut didukung oleh besarnya fasilitas kredit yang belum terserap (undisbursed loan) senilai Rp 2.575,42 triliun, atau sekitar 22,41% dari total plafon kredit yang tersedia. 

Selain itu, likuiditas perbankan tetap memadai, terlihat dari rasio Alat Likuid terhadap Dana Pihak Ketiga (AL/DPK) sebesar 24,74%, serta pertumbuhan DPK yang masih kuat di level 13,47% YoY pada Mei 2026.

Perkembangan suku bunga perbankan pun diharapkan mampu mendukung prospek kredit. Berdasarkan catatan BI, suku bunga kredit bertahan di angka 8,72% dan suku bunga deposito satu bulan berada di level 4,26%.

BI meyakini ketahanan perbankan tetap terjaga kuat guna memitigasi risiko dampak konflik di Timur Tengah. Selain likuiditas, kapasitas permodalan berada di tingkat tinggi dengan rasio kecukupan modal (capital adequacy ratio/CAR) perbankan pada April 2026 tercatat kuat di 23,97%. 

Sementara itu, risiko kredit tetap rendah dengan rasio kredit bermasalah (non-performing loan/NPL) agregat sebesar 2,1% secara bruto dan 0,84% secara neto per April 2026.

Perry memastikan hasil uji ketahanan (stress test) BI menunjukkan perbankan tetap tangguh menghadapi berbagai risiko, termasuk dampak rambatan perang di Timur Tengah, berkat kemampuan bayar dan profitabilitas korporasi yang terjaga dengan baik. 

"Bank Indonesia terus memperkuat kebijakan makroprodensial dan sinergi kebijakan bersama KSSK," kata Perry.

Rekomendasi

Index

Berita Lainnya

Index