Pengamat SDM: Luke Thomas Tepat Pimpin DSI Berbasis Meritokrasi

Pengamat SDM: Luke Thomas Tepat Pimpin DSI Berbasis Meritokrasi
Luke Thomas Mahony sebagai Direktur Utama PT Danantara Sumberdaya Indonesia (DSI). (Foto: NET)

JAKARTA – Keputusan menunjuk Luke Thomas Mahony sebagai Direktur Utama PT Danantara Sumberdaya Indonesia (DSI) dianggap sebagai perwujudan komitmen pemerintah serta Badan Pengelola Investasi (BPI) Danantara dalam memprioritaskan kompetensi dan profesionalisme untuk mengelola sektor strategis nasional.

Pakar manajemen sumber daya manusia, Yodhia Antariksa, berpendapat bahwa fokus utama dalam mengisi posisi krusial bukanlah latar belakang kewarganegaraan, melainkan integritas, rekam jejak, kompetensi, serta kapabilitas dalam mewujudkan target organisasi.

"Dalam praktik manajemen SDM modern pengisian posisi strategis harus didasarkan pada prinsip meritokrasi. Kompetensi, integritas, pengalaman dan kapasitas kepemimpinan menjadi faktor yang jauh lebih relevan dibanding status kewarganegaraan," ujar dia dalam keterangannya di Jakarta, Jumat (19/6/2026).

Meskipun penunjukan Luke Thomas yang merupakan warga negara asing (WNA) memicu diskusi, Yodhia menilai langkah tersebut bisa dipahami sebagai upaya mendatangkan kepemimpinan profesional, apalagi jika sosok tersebut memiliki pengalaman mendalam di industri sumber daya alam serta rantai pasok ekspor komoditas. 

Menurutnya, DSI mengelola aktivitas ekonomi berskala besar yang berdampak langsung pada penerimaan negara, sehingga pengelolaannya wajib bersandar pada sistem, data, tata kelola yang baik, serta akuntabilitas tinggi.

"Profesionalisme menjadi fondasi agar keputusan bisnis tidak dipengaruhi kepentingan jangka pendek maupun kepentingan kelompok tertentu,” katanya.

Yodhia menambahkan bahwa pemanfaatan talenta global merupakan hal lazim di berbagai negara. Banyak perusahaan negara maupun lembaga pengelola investasi dunia yang merekrut profesional terbaik tanpa membatasi diri pada kewarganegaraan. 

Kendati demikian, ia mengingatkan bahwa kualitas pribadi hanyalah satu unsur pendukung keberhasilan DSI.

Jika tujuan pendirian DSI adalah memperketat pengawasan dan meminimalisir celah kebocoran penerimaan negara, maka sistem dan tata kelola yang dirancang tetaplah menjadi penentu utama. 

Oleh sebab itu, desain SDM DSI harus berlandaskan meritokrasi yang solid; rekrutmen mengutamakan kompetensi, target kinerja yang terukur, remunerasi kompetitif, serta budaya transparansi yang kuat.

"Keberhasilan DSI nantinya tidak akan ditentukan oleh satu orang pemimpin, tetapi oleh kualitas tim, tata kelola, dan sistem yang dibangun sejak awal," katanya.

Sebelumnya, CEO BPI Danantara, Rosan Roeslani, menjelaskan bahwa pemilihan Luke Thomas didasarkan pada rekam jejaknya di industri pertambangan dan perdagangan komoditas global. 

Selain itu, kinerjanya selama bergabung di Danantara sebagai SEVP Business Performance & Optimization sejak September 2025 dan pengalaman sebelumnya sebagai Direktur di PT Vale Indonesia Tbk pada 2024-2025 menjadi pertimbangan utama.

Yodhia menegaskan kembali bahwa perdebatan mengenai WNI atau WNA bukanlah masalah utama. Hal terpenting adalah memastikan DSI sanggup menghadirkan tata kelola yang profesional, transparan, dan terbebas dari konflik kepentingan.

"Sehingga tujuan pemerintah untuk meningkatkan penerimaan negara dan mengurangi kebocoran ekspor benar-benar tercapai," ujarnya.

Rekomendasi

Index

Berita Lainnya

Index