AI Jadi Pilar Utama Transformasi Industri Fintech

AI Jadi Pilar Utama Transformasi Industri Fintech
Ilustrasi - Kecerdasan buatan (AI) kini menjadi sarana vital bagi perusahaan teknologi finansial.

JAKARTA - Kecerdasan buatan (AI) kini menjadi sarana vital bagi perusahaan teknologi finansial untuk mendorong pertumbuhan. Adopsi AI dianggap mampu meningkatkan efisiensi operasional sekaligus memperkuat sistem penilaian risiko serta deteksi penipuan. 

Tren ini menjadikan AI sebagai fondasi utama dalam menjaga daya saing di tengah masifnya pertumbuhan transaksi pembayaran digital.

Wulung Anggara Hanandita, VP of Data Platform and Data Science DANA, menjelaskan bahwa terdapat tiga pilar prinsip dalam memaksimalkan AI di perusahaan tempat ia bekerja. 

“Pertama kami harus punya infrastruktur dan teknologi yang harus berdiri sendiri. Kedua kami harus punya talentanya, dan yang terakhir harus ada yang mengaturnya agar penggunaannya tepat sasar,” ungkapnya dalam seminar Indonesia Ethical AI Summit, Rabu (17/6/2026).

Dia menjelaskan, diperlukan sinergi teknologi dan infrastruktur yang mumpuni agar AI berjalan aman. Di DANA, setiap karyawan yang memanfaatkan AI wajib melewati AI gateway untuk menjaga kualitas layanan serta mempercepat inovasi. 

Selain itu, DANA mengembangkan AI menggunakan GPU mandiri, yang mencerminkan kedaulatan atas penyimpanan serta pemrosesan data. 

“Kedaulatan AI bergantung pada kepemilikan GPU, terutama di industri finansial yang mengelola data dengan privasi tinggi. Tidak akan mungkin kami bisa berdaulat kalau kami harus selalu mengirimkan infrensi kami ke luar negeri,” tambahnya.

Selain teknologi, dibutuhkan talenta yang mendalami kecerdasan buatan. Dalam proses coding, DANA tetap menerapkan supervisi ketat oleh para talenta tersebut. 

Pilar ketiga adalah tata kelola, baik data maupun AI, yang bertujuan untuk edukasi dan penerapan etika. DANA pun memperketat tata kelola input serta proses data guna memastikan hasil keputusan finansial yang adil bagi masyarakat.

DANA berkomitmen memitigasi risiko bias algoritma yang dapat merugikan konsumen. Menurut Wulung, pengendalian algoritma sangat krusial dalam pengembangan teknologi saat ini. 

“Jadi perlu dipahami bagaimana dampaknya, termasuk pada kredit scoring,” kata Wulung.

Perusahaan menekankan pentingnya talenta dan kepemimpinan kuat untuk mengeliminasi bias tersebut. Landasan utama proses ini bertumpu pada tata kelola data yang kokoh. Jika data mentah dimasukkan tanpa penyelarasan matang ke dalam sistem credit scoring, terdapat risiko kelompok masyarakat tertentu tersingkir secara otomatis.

Lebih lanjut, DANA mengadopsi dan menyatukan aspek inovasi dari Amerika Serikat, kemampuan replikasi Tiongkok, serta perumusan regulasi dari Eropa dalam menggarap Agentic AI

DANA berharap adanya regulasi yang seimbang agar industri lokal dapat berinovasi dengan optimal tanpa terhambat, mengingat sektor finansial memerlukan pengaturan ketat atas perputaran modal dan risiko konsumen.

Rekomendasi

Index

Berita Lainnya

Index