Rupiah Melemah ke Rp17.934 per Dolar AS akibat Tekanan Global

Rupiah Melemah ke Rp17.934 per Dolar AS akibat Tekanan Global
Nilai Tukar Rupiah. (Foto: NET)

JAKARTA — Pergerakan nilai tukar rupiah diproyeksikan terus berada dalam posisi tertekan pada sesi perdagangan Rabu (1/7/2026), setelah pada hari sebelumnya ditutup merosot hingga menyentuh angka Rp17.907 per dolar AS. 

Mengacu pada data Tradingview, mata uang garuda melemah sebesar 0,31% atau terkoreksi 56 poin ke posisi Rp17.907 per dolar AS pada Selasa (30/6/2026). Di lain sisi, indeks dolar AS justru menguat 0,25% menuju level 101,36.

Perkembangan mata uang di kawasan Asia terpantau bergerak variatif. Yen Jepang mengalami pelemahan 0,26%, dolar Singapura turun 0,20%, won Korea Selatan menyusut 0,80%, dolar Hong Kong melemah 0,02%, dan ringgit Malaysia terpangkas 0,14%. 

Sebaliknya, yuan China berhasil menguat 0,11%, diikuti oleh dolar Taiwan yang naik tipis 0,02%, serta baht Thailand yang terapresiasi 0,13%.

Analis mata uang dan komoditas, Ibrahim Assuaibi, mengungkapkan bahwa dari faktor eksternal, pelaku pasar tengah mencermati kelanjutan potensi dialog antara AS dan Iran di Doha, menyusul aksi saling serang rudal pada akhir pekan yang menguji efektivitas gencatan senjata. 

Kendati demikian, Esmaeil Baghaei selaku juru bicara Kementerian Luar Negeri Iran menegaskan bahwa tidak dijadwalkan adanya pertemuan negosiasi pada tingkatan apa pun dengan pihak Amerika dalam waktu dekat.

Situasi yang tidak pasti terkait pertemuan kedua negara tersebut memperlihatkan betapa rapuhnya kesepakatan tertanggal 17 Juni untuk menyudahi konflik. 

Perseteruan ini sebelumnya sempat menghambat distribusi minyak global melalui Selat Hormuz sekaligus menghadirkan tantangan politik bagi Trump menjelang pemilu kongres pada November mendatang.

Faktor penekan lainnya berasal dari kuatnya spekulasi bahwa Federal Reserve AS bakal mendongkrak suku bunga acuan setidaknya satu kali pada tahun ini. Hal ini dipicu oleh sikap hawkish yang ditunjukkan bank sentral dalam pertemuan bulan Juni, di mana sejumlah pembuat kebijakan menyuarakan urgensi kenaikan suku bunga. 

Perhatian pelaku pasar kini terfokus pada rilis data ketenagakerjaan AS bulan Juni, khususnya Nonfarm Payrolls (NFP) yang dijadwalkan keluar hari Kamis. Para ekonom memprediksi adanya tambahan 114.000 lapangan kerja di AS, dengan Tingkat Pengangguran yang diproyeksikan bertahan di angka 4,3%. 

Data ini diyakini akan memengaruhi arah kebijakan moneter The Fed ke depan. Pada hari Selasa waktu setempat, agenda ekonomi AS juga menghadirkan laporan JOLTS serta Indeks Kepercayaan Konsumen dari Conference Board (CB) yang dipublikasikan pada pukul 21.00 WIB.

Dari koridor domestik, investor masih menantikan rilis data neraca perdagangan periode Mei, setelah sebelumnya pada April terjadi pelebaran defisit transaksi berjalan dan anggaran. 

Menyusutnya angka surplus perdagangan diprediksi bakal memperberat defisit transaksi berjalan atau current account deficit (CAD) sepanjang tahun ini. Performa tersebut berisiko melemahkan daya tahan eksternal serta memperbesar tekanan pada kurs rupiah jika tidak ditopang oleh aliran masuk modal asing.

Berdasarkan catatan Badan Pusat Statistik (BPS), akumulasi surplus dagang Indonesia hingga April baru mencapai US$ 5,64 miliar, angka yang merosot tajam dibanding periode Januari–April 2025 yang melampaui US$ 100 miliar. 

Di samping itu, laju inflasi pada Mei mulai mendekati batas atas target Bank Indonesia akibat lonjakan harga komoditas pangan. 

Kendati stabilitas harga dan tingkat konsumsi secara nasional masih berada dalam koridor aman, pergerakan inflasi di beberapa wilayah telah memberikan sinyal waspada, terutama di Sumatra yang mengalami tekanan harga lebih tinggi daripada daerah lainnya. 

Sentimen dalam negeri juga diwarnai oleh regulasi baru yang membebaskan hukum secara menyeluruh bagi pembeli obligasi kelolaan dana investasi negara Danantara, sebuah kebijakan yang memicu kekhawatiran publik terkait aspek tata kelola dan transparansi.

Ibrahim sebelumnya memproyeksikan rupiah hari ini akan menyentuh level penutupan di kisaran Rp17.900 hingga Rp17.950. 

Berdasarkan data IDX Mobile pada penutupan perdagangan pasar sore, mata uang rupiah akhirnya terkoreksi 44 poin atau melemah 0,25% ke posisi Rp17.934 per dolar AS, sementara indeks dolar AS terpantau menguat 0,14 poin atau 0,14% ke level 101,33. 

Pada pukul 14.46 WIB, data MarketWatch sempat mencatatkan posisi rupiah di level Rp17.942 per dolar AS atau melemah 0,17%.

BPS melalui Deputi Bidang Statistik Distribusi dan Jasa, Ateng Hartono, menyampaikan bahwa neraca perdagangan Indonesia pada Mei 2026 mengalami defisit sebesar US$1,61 miliar. Angka ini secara resmi memutus rantai tren surplus dagang yang sudah bertahan selama 72 bulan berturut-turut sejak Mei 2020. 

Ateng memaparkan bahwa nilai ekspor Indonesia pada Mei 2026 hanya mencapai US$23,20 miliar, terkontraksi sebesar 5,73% dibandingkan dengan Mei 2025 (year on year/YoY). Di sisi lain, nilai impor pada Mei 2026 justru melesat hingga US$24,81 milar, mencatatkan kenaikan sebesar 22,16% secara tahunan (YoY).

Sebelumnya pada pukul 10.52 WIB, rupiah sempat berada di posisi Rp17.950 per dolar AS atau melemah 0,21%. Pada awal pembukaan perdagangan pukul 09.10 WIB, rupiah bahkan sempat anjlok hingga 60 poin atau turun 0,37% ke posisi Rp17.972 per dolar AS.

Analis dari Doo Financial Futures, Lukman Leong, menilai pelemahan mata uang rupiah sejalan dengan melonjaknya optimisme pasar terhadap perekonomian AS setelah publikasi data Job Openings and Labor Turnover Survey (JOLTS) memperlihatkan ketersediaan lowongan kerja yang melampaui estimasi.

"Rupiah berpotensi melemah terhadap dolar AS yang rebound oleh data pekerjaan AS JOLTS yang lebih kuat dari perkiraan," ujarnya, Rabu (1/7/2026).

Walau demikian, ia memandang bahwa kemerosotan nilai tukar rupiah ini cenderung berjalan dinamis dan terbatas. Hal ini disebabkan karena para pelaku pasar lebih memilih mengambil sikap wait and see sembari menantikan rilis beberapa indikator makroekonomi domestik yang krusial bagi proyeksi pergerakan rupiah selanjutnya. 

Siang ini, perhatian investor tertuju pada rilis resmi data inflasi periode Juni 2026 serta performa neraca dagang Indonesia demi mengukur stabilitas fundamental ekonomi dalam negeri. 

Menurut Lukman, apabila data perekonomian domestik tidak memicu kejutan besar, nilai tukar rupiah diproyeksikan akan bergerak konstan pada rentang Rp17.900 hingga Rp18.000 per dolar AS sepanjang perdagangan hari ini.

Rekomendasi

Index

Berita Lainnya

Index