JAKARTA — Mata uang rupiah diproyeksikan memiliki celah untuk bergerak menguat terhadap dolar Amerika Serikat (AS) pada perdagangan pekan ini. Peluang ini terbuka seiring dengan potensi melemahnya indeks dolar AS setelah data ketenagakerjaan di Negeri Paman Sam menunjukkan tanda-tanda perlambatan.
Analis Doo Financial Futures menilai bahwa dari faktor eksternal, minimnya rilis data ekonomi penting dari AS akan membuat fokus investor tetap tertuju pada efek data nonfarm payrolls (NFP) yang melandai dari ekspektasi.
Situasi ini membuka jalan bagi indeks dolar AS untuk terus melemah, sehingga memberikan momentum penguatan bagi rupiah.
Meski begitu, dari sisi internal, penguatan mata uang Garuda akan sangat bergantung pada sejumlah data ekonomi domestik yang akan keluar dalam beberapa hari mendatang, seperti cadangan devisa, indeks kepercayaan konsumen, hingga angka penjualan ritel.
"Penguatan rupiah dapat tertahan dan mungkin berbalik melemah apabila data-data ekonomi domestik pekan depan mengecewakan," ujarnya, Minggu (5/7/2026).
Walaupun ada peluang, performa nilai tukar rupiah diprediksi masih akan tertinggal jika dibandingkan dengan mayoritas mata uang di kawasan Asia lainnya. Hal tersebut terjadi karena rupiah masih dibayangi oleh sentimen domestik yang memicu sikap waspada dari para investor.
Faktor-faktor yang menjadi beban di antaranya adalah kecemasan terkait potensi penurunan peringkat utang (downgrade) Indonesia, status pasar modal, hingga isu ketahanan fiskal pemerintah.
Rentetan sentimen ini membuat pergerakan naik rupiah menjadi lebih terbatas daripada mata uang regional lainnya.
Dengan melihat kombinasi faktor eksternal dan internal tersebut, rupiah diperkirakan akan berfluktuasi pada rentang Rp17.700 sampai Rp18.100 per dolar AS selama perdagangan pekan depan.
Sebagai catatan, pada perdagangan Jumat (3/7/2026), rupiah ditutup menguat 44 poin pada posisi Rp17.945 per dolar AS. Pergerakan selanjutnya bakal ditentukan oleh respons pasar atas rilis data ekonomi domestik serta dinamika sentimen global.
Sementara itu, pada pergerakan hari ini pukul 09.05 WIB, berdasarkan data analisis Doo Financial Futures, rupiah justru dibuka melemah 0,18% ke posisi Rp17.995 per dolar AS.
Tren penurunan ini juga dirasakan oleh sebagian besar mata uang lain di Asia. Penurunan terdalam dipimpin oleh Yen Jepang sebesar 0,30%, diikuti dolar Taiwan yang turun 0,28%, serta won Korea yang melemah 0,25%.
Memasuki pukul 12.00 WIB, posisi rupiah tercatat semakin merosot 0,21% atau terpangkas 37 poin ke level Rp17.992 per dolar AS.