CAFTA 3.0 Diteken, China-ASEAN Percepat Kawasan Perdagangan Bebas

Sabtu, 19 September 2026 | 22:02:00 WIB
CAFTA 3.0 Diteken, China-ASEAN Percepat Kawasan Perdagangan Bebas

INVESTASIMEDIA.COM — Wakil Perdana Menteri China Ding Xuexiang menyatakan Protokol Peningkatan CAFTA 3.0 telah ditandatangani resmi dan kini memasuki tahap prosedur hukum di masing-masing negara. Kesepakatan ini dirancang memperluas perdagangan China-ASEAN ke sektor ekonomi digital dan ekonomi hijau, bukan sekadar menurunkan tarif barang.

Ding menyampaikan hal ini saat membuka pameran China-ASEAN (CAEXPO) di Kota Nanning, China, Kamis (17/9). Negosiasi CAFTA 3.0 sendiri dimulai sejak November 2022.

Pembaruan perjanjian itu disebut lebih inklusif dan modern dibanding CAFTA sebelumnya. Cakupannya melebar ke bidang-bidang baru yang belum diatur dalam kerangka lama.

Apa yang Berubah dari CAFTA Versi Lama

Kerangka CAFTA 3.0 memberi ruang lebih besar bagi kerja sama ekonomi digital dan ekonomi hijau. Kedua sektor ini jadi tambahan di luar perdagangan barang dan jasa yang sudah berjalan.

Menurut Ding, kawasan perdagangan bebas tingkat lanjut ini akan menyediakan dukungan kelembagaan lebih kuat bagi pembangunan regional. Tingkat keterbukaan di kawasan juga ditargetkan meningkat.

Kedua pihak kini menjalani prosedur hukum domestik masing-masing. Proses pemberlakuan dan pelaksanaan protokol dipercepat agar bisa segera berjalan.

Luhut ke Beijing, Bidik Kerja Sama AI dan Bioteknologi

Ketua Dewan Ekonomi Nasional Luhut Binsar Panjaitan bertemu Menlu China Wang Yi di Beijing pada Kamis lalu. Dalam pertemuan itu, Luhut menyampaikan Indonesia ingin belajar dari keberhasilan pembangunan China.

"Indonesia berharap dapat mempelajari pengalaman keberhasilan China dalam melaksanakan Rencana Lima Tahun ke-15 serta memperkuat kerja sama dengan China di berbagai industri strategis baru, seperti kecerdasan buatan, bioteknologi, layanan kesehatan, manufaktur maju, dan keuangan digital," kata Luhut.

Luhut dan Wang Yi sebelumnya bertemu pada 22 Agustus 2026 di Jakarta, saat Wang Yi menghadiri Dialog Strategis Komprehensif dan Mekanisme Dialog 2+2 antara menlu serta menteri pertahanan kedua negara.

Indonesia juga ingin memperkuat kerja sama di bidang pertambangan dan pengembangan sumber daya manusia. Luhut menyebut penjajakan mencakup produksi, riset, pengembangan, dan inovasi bersama.

Posisi Indonesia di Mata China

Luhut menegaskan Indonesia sangat mementingkan hubungan dengan China. Menurutnya, persahabatan dan rasa saling percaya kedua negara sudah terjalin erat.

"China merupakan mitra strategis Indonesia yang paling dapat diandalkan dan bersifat jangka panjang dalam proses pembangunan nasional. Pembangunan Indonesia tidak terlepas dari dukungan dan partisipasi China, persahabatan kedua negara juga semakin memperoleh tempat di hati masyarakat Indonesia," ungkap Luhut.

Wang Yi menyebut pertemuan bilateral yang sudah berjalan meningkatkan pemahaman dan kepercayaan kedua pihak. China dan Indonesia dinilainya sebagai representasi perekonomian berkembang.

"Pendalaman komunikasi strategis dan penguatan kerja sama strategis antara kedua negara tidak hanya sejalan dengan kepentingan rakyat kedua negara, tetapi juga memiliki pengaruh penting yang melampaui hubungan bilateral," kata Wang Yi.

Dampak ke Pelaku Usaha dan Investor

Bagi eksportir Indonesia, perluasan CAFTA ke ekonomi digital dan hijau membuka peluang masuk ke rantai pasok yang sebelumnya tertutup tarif dan aturan teknis. Sektor manufaktur maju dan biofarmasi disebut Wang Yi sebagai area baru yang siap dikembangkan.

Wang Yi juga menyambut keputusan Presiden Prabowo agar Indonesia bergabung dengan Organisasi Kerja Sama Kecerdasan Buatan Dunia. China bersedia bekerja sama mendorong pengembangan AI yang inklusif.

China menyatakan siap mendorong negara-negara Global South memperkuat diri secara kolektif. Penyelarasan strategi pembangunan kedua negara jadi kunci agar kerja sama tidak berhenti di tataran komitmen.

Terkini