Kubis Dairi Bidik Ekspor 200 Ton per Bulan, Petani Untung 3 Kali Lipat

Kubis Dairi Bidik Ekspor 200 Ton per Bulan, Petani Untung 3 Kali Lipat
Kubis Dairi Bidik Ekspor 200 Ton per Bulan, Petani Untung 3 Kali Lipat

INVESTASIMEDIA.COM — Petani kubis di Kabupaten Dairi, Sumatera Utara, berpeluang meraup keuntungan bersih Rp 3.500 hingga Rp 5.000 per kilogram dari pasar ekspor, jauh di atas margin domestik yang hanya Rp 1.000–Rp 1.500 per kilogram. Pemerintah daerah menargetkan alokasi 100–200 ton per bulan untuk pasar Asia Tenggara dan Asia Timur pada tahap awal pengembangan. Selisih margin itu menjadi daya tarik utama program hilirisasi hortikultura yang digarap bersama Kementerian Pertanian.

Direktorat Jenderal Hortikultura Kementerian Pertanian bersama Pemerintah Kabupaten Dairi mendorong pengembangan kubis berorientasi ekspor melalui program Horticulture Development in Dryland Areas Project (HDDAP). Program ini menitikberatkan penguatan budidaya berstandar ekspor, peningkatan kualitas pascapanen, dan pembangunan rantai pasok berkelanjutan.

Kabupaten Dairi dinilai punya modal kuat sebagai sentra hortikultura nasional. Tanah vulkaniknya subur, dengan ketinggian wilayah 700 hingga 1.450 meter di atas permukaan laut.

Karakteristik itu menghasilkan kubis dataran tinggi yang renyah dan padat, sesuai permintaan pasar premium.

Produksi Tahunan Capai 6.000 Ton, Baru untuk Pasar Domestik

Data Badan Pusat Statistik (BPS) Kabupaten Dairi tahun 2025 mencatat luas panen kubis lebih dari 549 hektare. Produktivitas lahan berada di kisaran 6 hingga 7,3 ton per hektare.

Dengan angka itu, produksi kubis Dairi diperkirakan mencapai 5.000 hingga 6.000 ton per tahun. Seluruhnya masih diserap pasar domestik.

Pemerintah daerah memproyeksikan alokasi 100 hingga 200 ton per bulan untuk pasar ekspor pada tahap awal. Target itu akan didukung penerapan standar mutu, penguatan kelembagaan petani, serta peningkatan kapasitas penanganan pascapanen.

Harga Ekspor Tembus Rp 10.000 per Kilogram

Selisih harga menjadi kunci insentif bagi petani. Di pasar domestik, kubis dihargai Rp 2.500 hingga Rp 4.000 per kilogram, dengan keuntungan bersih sekitar Rp 1.000 hingga Rp 1.500 per kilogram.

Untuk pasar ekspor, harga diproyeksikan mencapai Rp 7.000 hingga Rp 10.000 per kilogram. Setelah memperhitungkan biaya penyortiran dan pengemasan Rp 2.500 hingga Rp 3.000 per kilogram, keuntungan bersih petani berada di kisaran Rp 3.500 hingga Rp 5.000 per kilogram.

Artinya, orientasi ekspor berpotensi melipatgandakan keuntungan petani dua hingga tiga kali dibandingkan penjualan domestik. Besaran akhirnya tetap bergantung pada harga aktual, biaya produksi, standar mutu, dan efisiensi rantai pasok.

Malaysia, Singapura, hingga Taiwan Jadi Target

Pengembangan ekspor kubis Dairi diarahkan menyasar pasar Asia Tenggara dan Asia Timur. Malaysia dan Singapura menjadi target potensial dengan kebutuhan pasokan rutin.

Taiwan juga masuk radar karena menuntut standar mutu dan kesegaran tinggi. Pemenuhannya butuh penguatan sistem produksi dan penanganan pascapanen.

Petani didorong menerapkan Good Agricultural Practices (GAP), termasuk pengelolaan budidaya, penggunaan pestisida secara tepat, dan pengendalian residu sesuai ketentuan negara tujuan.

Penerapan sorting and grading menjaga konsistensi mutu. Kubis untuk pasar ekspor ditargetkan berbobot 1,5 hingga 2,5 kilogram per knop, sesuai spesifikasi calon pembeli.

Varietas Green Nova F1 dan Penguatan Koperasi

Varietas Green Nova F1 menjadi salah satu pilihan petani karena karakteristiknya sesuai kebutuhan pasar dataran tinggi. Bobotnya ideal, knop padat, dan daya simpannya mendukung distribusi jarak jauh.

Di sisi kelembagaan, pemerintah daerah memperkuat peran kelompok tani dan koperasi. Langkah ini untuk konsolidasi produksi, kontinuitas pasokan, dan peningkatan posisi tawar petani dalam rantai pemasaran.

Direktur Hilirisasi Hasil Hortikultura Kementerian Pertanian sekaligus Project Director HDDAP, Freddy Lumban Gaol, menegaskan pengembangan kubis Dairi bagian dari upaya memperkuat hilirisasi hortikultura berbasis kawasan.

"Program HDDAP tidak hanya berfokus pada peningkatan produksi, tetapi juga mendorong penguatan rantai nilai hortikultura dari hulu hingga hilir. Kabupaten Dairi memiliki potensi pengembangan kubis yang perlu dioptimalkan melalui penerapan praktik budidaya yang baik, peningkatan kualitas pascapanen, dan penguatan akses pasar. Kami ingin memastikan bahwa produk yang dihasilkan petani mampu memenuhi persyaratan mutu dan memiliki daya saing di pasar domestik maupun internasional," ujar Freddy dalam keterangan tertulis, Minggu (20/9/2026).

Freddy menambahkan, akses pasar ekspor harus dibangun lewat kesiapan produksi, konsistensi mutu, dan kepastian pasokan. Karena itu, pendampingan HDDAP diarahkan pada perencanaan produksi terukur dan kemitraan berkelanjutan dengan pelaku usaha.

Rekomendasi

Index

Berita Lainnya

Index