INVESTASIMEDIA.COM — Pabrik tahu milik pasangan Gen Z, Ragil (25) dan Tasya (23), di Cilebut, Bogor, Jawa Barat, mencatat omzet kotor Rp 10 juta hingga Rp 18 juta per hari atau sekitar Rp 400 juta per bulan. Usaha yang baru berjalan sekitar satu tahun itu mengolah 300-400 kilogram kedelai setiap hari menjadi sekitar 18.000 potong tahu. Strategi memangkas jalur distribusi dan memanfaatkan TikTok menjadi kunci pertumbuhan bisnis mereka.
Ragil bukan orang baru di bisnis tahu. Sejak kecil ia sudah hidup di pabrik tahu milik orang tuanya, membantu proses produksi hingga pengiriman ke pasar.
"Karena saya dari dulu tuh sebenarnya orang tua saya basic-nya usaha tahu juga. Dari kecil saya hidupnya di pabrik tahu juga," kata Ragil saat ditemui di pabriknya di Cilebut, Jawa Barat, Sabtu (19/9).
Bekal itu membuatnya memilih menekuni usaha yang sama setelah lulus sekolah. Bersama Tasya, ia membangun pabrik tahu sendiri di dekat Stasiun Cilebut.
Memangkas Jalur Pasar demi Perputaran Modal
Ragil tidak sepenuhnya meniru pola bisnis orang tuanya. Ia memilih menjual tahu langsung ke konsumen, tanpa melewati pasar.
Keputusan itu berangkat dari persoalan modal. Pengiriman ke pasar, menurut dia, menuntut tiga modal sekaligus: biaya produksi, dana yang tertahan di pedagang, dan modal untuk membeli stok barang.
"Jadi kan dulu tuh orang tua buka pabrik tahu, dia tuh pengirimannya ke pasar. Jadi kalau ke pasar tuh kita tuh harus ada tiga modal," jelas Ragil.
Dengan memangkas jalur distribusi, arus kas usaha lebih lancar. Harga jual pun bisa ditekan. Apalagi kedelai sebagai bahan baku diperoleh dari impor, sehingga harganya rentan terhadap fluktuasi.
Tahu Rp 700 per Potong, Dikenal lewat TikTok
Pabrik yang baru berusia sekitar satu tahun itu mengolah 300 hingga 400 kilogram kedelai per hari. Dari jumlah itu, produksi mencapai sekitar 18.000 potong tahu.
"(Kedelai habis) rata-rata sehari kurang lebih 300 sampai 400 kilo. 18 ribu pieces," ujar Ragil.
Tahu kuning dan tahu putih dijual Rp 700 per potong, atau Rp 10.000 untuk 15 potong. Oncom dibanderol Rp 1.000 per keping, tahu Sumedang Rp 800 per potong.
Untuk tempe, harga bervariasi mulai Rp 6.000 untuk tempe daun, Rp 7.000 untuk tempe super, hingga Rp 12.000 untuk tempe besar. Toko di depan pabrik buka setiap hari pukul 06.00 WIB sampai 20.00 WIB.
Tasya menyebut penetapan harga itu bagian dari strategi menjaga daya saing di tengah biaya produksi yang harus ditanggung.
"Jadi kita bagaimana sih mikir caranya biar kasih harga yang tetap spesial ke pelanggan," ujar Tasya.
Popularitas usaha ini melonjak setelah Ragil aktif di TikTok lewat akun @tahugen.z. Pembeli pun berdatangan dari luar daerah, termasuk seorang konsumen yang mengaku datang dari Medan.
Omzet Kotor Rp 400 Juta Sebulan
Operasional pabrik berjalan tanpa hari libur. Dari situ, usaha Ragil mencatat omzet kotor Rp 10 juta hingga Rp 18 juta per hari.
Angka itu belum dikurangi biaya produksi dan operasional, sehingga tidak menggambarkan keuntungan bersih yang diterima.
"Kalau omzet tuh omzet kotornya sehari itu Rp 10 sampai Rp 18 juta, per bulan berarti dikali 30 aja karena kita gak ada liburnya. Kurang lebih (Rp 400 juta per bulan)," tutur Tasya.
Bagi pembaca yang menekuni UMKM, kisah Ragil dan Tasya menunjukkan efisiensi jalur distribusi bisa jadi penentu arus kas. Terlebih ketika bahan baku utama masih bergantung pada pasokan impor.