INVESTASIMEDIA.COM — Kolaborasi PGN, BRIN, dan Pemkab Batang memanen 166,5 ton gabah kering panen dari budidaya Padi Biosalin di lahan pesisir bersalinitas tinggi, dengan nilai ekonomi Rp1,3 miliar. Panen raya digelar Jumat (18/9/2026) di tengah tekanan El Nino sangat kuat yang mengancam sektor pertanian. Hasil ini membuktikan lahan pesisir yang sempat tak produktif 6 tahun tetap bisa digarap secara ekonomis.
PT Perusahaan Gas Negara (Persero) Tbk (PGN), Subholding Gas Pertamina, bersama Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) dan Pemerintah Kabupaten Batang memanen sekitar 166,5 ton gabah kering panen (GKP). Panen raya Padi Biosalin berlangsung Jumat (18/9/2026) di Kabupaten Batang, Jawa Tengah.
Hasil panen itu setara nilai ekonomi Rp1,3 miliar. Capaian tersebut lahir dari program CSR Pengembangan dan Budidaya Varietas Padi Biosalin dan Minapadi Salin pada Kawasan Salinitas Tinggi.
Lahan Pesisir yang Sempat Menganggur 6 Tahun
Lahan pesisir di Batang sebelumnya tidak produktif selama 6 tahun. Penyebabnya salinitas tinggi akibat pengaruh air laut dan rob, ditambah keterbatasan air di kawasan tersebut.
Kondisi itu diperparah oleh musim kemarau panjang. Berdasarkan data Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG), indeks ENSO rata-rata tiga bulanan periode Juli-September 2026 tercatat 2,6 atau masuk kategori El Nino sangat kuat.
Hingga dasarian I September, sekitar 80,7% Zona Musim di Indonesia telah memasuki musim kemarau. Tekanan iklim ini membuat lahan pesisir makin sulit ditanami komoditas biasa.
Adaptasi Iklim lewat Varietas Tahan Salin
Wakil Menteri Koordinator Bidang Pangan RI, Hanif Faisol Nurofiq, menyebut perubahan iklim, abrasi, dan rob sebagai tantangan nyata bagi keberlanjutan lahan pertanian pesisir. Menurutnya, dibutuhkan langkah adaptasi dan mitigasi yang terintegrasi.
"Diperlukan inovasi pertanian yang mampu beradaptasi dengan kondisi lahan salin," kata Hanif dalam keterangan terkait panen raya tersebut.
Ia menilai pengembangan Padi Biosalin dan mina salin di Batang menunjukkan lahan bersalinitas tinggi tetap dapat dimanfaatkan secara produktif. Caranya lewat penerapan inovasi dan teknologi yang tepat guna.
Dampak bagi Petani dan Ketahanan Pangan
Bagi petani pesisir Batang, program ini mengembalikan lahan yang sempat idle menjadi sumber penghasilan. Skema minapadi salin juga memberi tambahan pendapatan dari budidaya ikan di sela tanaman padi.
Model serupa berpeluang direplikasi di daerah pesisir lain yang menghadapi masalah rob dan intrusi air laut. Dengan luas lahan salin yang besar di Indonesia, pendekatan ini relevan untuk memperkuat ketahanan pangan nasional.
Kolaborasi BUMN, lembaga riset, dan pemerintah daerah menjadi kunci. PGN menyediakan dukungan CSR, BRIN memasok riset varietas, sementara Pemkab Batang memfasilitasi lahan dan pendampingan petani.
Keberhasilan panen di Batang menjadi bukti awal bahwa tekanan El Nino tidak otomatis menutup peluang produksi pangan di lahan marginal. Jika direplikasi lebih luas, varietas Biosalin bisa menjadi salah satu jawaban atas tantangan iklim yang kian berat bagi sektor pertanian Indonesia.