INVESTASIMEDIA.COM — Mantan kepala dinas intelijen luar negeri Inggris, Sir John Sawers, menilai Israel sengaja membunuh Ali Larijani pada Maret 2026 bukan karena tokoh itu menggerakkan perang Iran, melainkan karena ia salah satu dari sedikit figur Iran yang bisa mencapai kesepakatan. Penilaian itu memunculkan pertanyaan lebih besar: apakah pembunuhan Larijani bagian dari pola Israel menyingkirkan orang-orang yang justru bisa mengakhiri perang.
Sawers menyampaikan penilaian itu kepada The Financial Times pada awal September 2026. Ia berbicara sebagai mantan pejabat intelijen karier, bukan sebagai advokat salah satu pihak. Menurutnya, Larijani adalah tipe lawan bicara yang bisa dipakai Amerika Serikat untuk mencari jalan keluar dari perang.
Larijani bukan nama sembarangan di Teheran. Dua dekade lalu ia menjabat negosiator nuklir Iran. Sebagai ketua parlemen, ia membela kesepakatan nuklir 2015. Setelah Pemimpin Tertinggi Ali Khamenei tewas pada hari pembukaan perang, Larijani menjadi pengambil keputusan efektif negara itu.
Siapa Ali Larijani dan Mengapa Kehilangannya Berdampak
Diplomat Barat yang pernah berurusan dengan Larijani menggambarkannya sebagai sosok keras tapi pragmatis. Profil itu membuatnya cocok menjadi lawan runding bagi Washington. Ketika ia disingkirkan, saluran komunikasi ke Teheran kehilangan salah satu penulisnya.
Pola semacam ini bukan hal baru. September 1948, mediator PBB untuk Palestina, Count Folke Bernadotte, dibunuh di Yerusalem oleh anggota Lehi, kelompok bawah tanah Zionis yang di antaranya dipimpin Yitzhak Shamir, kelak perdana menteri Israel. Bernadotte sedang bolak-balik membawa usulan gencatan senjata dan pembagian wilayah.
Para pembunuhnya menganggap kompromi apa pun sebagai pengkhianatan. Logika serupa muncul lagi November 2020, saat Mohsen Fakhrizadeh, tokoh utama program nuklir Iran, tewas di dekat Teheran dalam operasi yang luas diatribusikan ke Israel.
Pola yang Sama pada Hamas dan Hizbullah
Waktunya dinilai janggal. Fakhrizadeh dibunuh beberapa pekan setelah Joe Biden terpilih sebagai presiden Amerika Serikat dengan komitmen menghidupkan kembali kesepakatan nuklir 2015. Banyak pengamat membacanya bukan sebagai upaya ant proliferasi, melainkan sebagai penghalang yang sengaja ditaruh di jalur diplomasi.
Israel menerapkan logika serupa terhadap aktor non-negara. Februari 1992, Israel membunuh Sekretaris Jenderal Hizbullah Abbas al-Musawi. Penggantinya adalah Hassan Nasrallah, yang selama tiga dekade membangun gerakan itu menjadi kekuatan bersenjata non-negara paling mumpuni di kawasan.
Juli 2024, Israel membunuh Ismail Haniyeh, kepala biro politik Hamas sekaligus negosiator utamanya dalam perundingan gencatan senjata Gaza. Pembunuhan terjadi saat diplomasi itu masih berjalan. Otoritas beralih ke Yahya Sinwar, dan jalur perundingan tak pernah pulih. Beberapa pekan kemudian, Israel membunuh Nasrallah.
Mengapa Pembunuhan Negosiator Justru Mengunci Perang
Setiap pembunuhan menyasar titik koordinasi, figur yang membuat pihak lawan bisa mengorganisasi diri dan pada saat tertentu berunding. Menyingkirkannya menghasilkan kekacauan jangka pendek. Dua kali, hasilnya justru pengganti yang lebih enggan berdamai.
Pengganti seorang negosiator yang tewas jarang lebih lentur. Biasanya ia lebih keras, karena kaum garis keras yang bertahan dan mewarisi posisi. Saluran kehilangan penulisnya, dan pengerasan yang menyusul kemudian dibaca kedua pihak sebagai bukti bahwa diplomasi memang tak pernah mungkin.
Dari kacamata strategi Israel sendiri, langkah itu koheren, bukan sekadar dendam. Bagi negara yang memandang sistem Iran sebagai ancaman eksistensial, hasil yang diinginkan adalah keruntuhan sistem itu, bukan akomodasi lewat perundingan.
Kesepakatan awet yang dimediasi pragmatis kredibel justru akan menstabilkan tatanan yang ingin Israel lihat runtuh. Kesepakatan itu juga menutup tekanan militer Amerika yang menjadi sandaran harapan keruntuhan tersebut.
Dampak ke Dalam Iran dan Jalan yang Tertutup
Efeknya terlihat di dalam Iran. Tekanan eksternal cenderung mengeraskan keraguan yang justru ingin dipatahkannya, melebarkan jarak antara kepemimpinan politik yang mengakui biaya perang dan aparat keamanan yang menganggap setiap serangan sebagai pembenaran sikap menantang.
Menyingkirkan para pragmatis menggeser keseimbangan itu makin jauh ke kubu kedua. Kesimpulan yang menguat di Teheran: tidak ada lagi yang tersisa untuk dirundingkan.
Alasan resmi Israel dalam setiap kasus selalu bersifat militer dan preventif. Namun rangkaian pembunuhan terhadap figur yang bisa menegosiasikan akhir perang meninggalkan pertanyaan yang belum terjawab. Selama saluran moderasi terus diputus, perang tidak hanya kehilangan mediatornya, tetapi juga kemungkinan penyelesaiannya.